
Jakarta, Petta – Lupakan KKN atau gajah animasi. Pasukan “Agak Laen” baru saja membuktikan bahwa komedi investigasi panti jompo adalah candu baru masyarakat Indonesia yang haus tawa di tengah ketidakpastian.
Selamat datang di era di mana hantu desa menari dan animasi ambisius harus rela menyerahkan mahkotanya kepada empat sekawan yang jujur saja lebih sering terlihat seperti orang bingung daripada detektif.
Per 2 Januari 2026, jagat perfilman Indonesia resmi punya raja baru. Sekuel yang awalnya diragukan banyak orang, “Agak Laen: Menyala Pantiku!”, berhasil menembus angka keramat 10.250.000 penonton. Angka ini tidak hanya statistik, ini adalah pernyataan perang terhadap dominasi horor yang sudah bertahun-tahun mencekik layar bioskop kita.
Menumbangkan Sang Raksasa
Hanya dalam waktu 36 hari, film garapan Muhadkly Acho ini berhasil melakukan apa yang dianggap mustahil: menggeser film animasi “Jumbo” (10,23 juta penonton) dan sang legenda “KKN di Desa Penari” (10,06 juta).
Yang menarik, kesuksesan ini bukan karena strategi pemasaran korporat yang kaku. Ini adalah kemenangan organik dari sebuah circle pertemanan. Bayangkan, sebuah film tentang empat orang yang menyamar di panti jompo untuk sebuah misi investigasi konyol bisa mengumpulkan massa yang setara dengan populasi satu negara kecil di Eropa.
“Kikuk” di Puncak Klasemen
Melihat angka yang terus meroket, para pemainnya sendiri justru tampak mengalami imposter syndrome. Bene Dion, salah satu pilar utama film ini, mengungkapkan keterkejutannya lewat platform X (sebelumnya Twitter) dengan nada yang sangat rendah hati atau mungkin memang masih kaget.
“Agak kikuk melihat angka ini. Masih sulit dipercaya kami ada di posisi ini sekarang. Terima kasih buat semua yang sudah jadi bagian dari perjalanan yang ‘agak laen’ ini,”
Sentimen serupa datang dari sang produser, Ernest Prakasa. Pria di balik rumah produksi Imajinari ini mengucapkan apresiasi melalui akun Instagram miliknya
“Saya persembahkan pencapaian ini untuk seluruh kru & pemain yang sudah mendedikasikan segenap kepiawaiannya di karya ini. Selamat kawan, kita baru saja mengukir sejarah. Terima kasih penonton bioskop Indonesia. Terima kasih banyak. Ini semua ulah kalian,”
Kenapa Kita Begitu Terobsesi?
Mengapa kita rela antre di bioskop untuk menonton Boris Bokir, Indra Jegel, Oki Rengga, dan Bene Dion beradu akting (dan menghina satu sama lain)?
Jawabannya sederhana: Relatabilitas. Di tengah gempuran film horor yang menjual ketakutan atau film aksi berbujet besar yang terasa jauh dari realita, “Agak Laen” menawarkan tawa yang jujur. Mereka merepresentasikan kegagalan, persahabatan yang kasar namun tulus, dan kekonyolan hidup sehari-hari yang kita semua alami.
Kini, target mereka tinggal satu: Avengers: Endgame. Dengan selisih kurang dari satu juta penonton lagi untuk menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia (termasuk film asing), pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka bisa?”, tapi “kapan?”.
Jika tren ini berlanjut, jangan kaget jika minggu depan kita akan melihat spanduk besar bertuliskan: Panti Jompo Lebih Kuat dari Thanos.
