
Teheran, Petta – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran secara resmi menolak proposal gencatan senjata 45 hari yang dimediasi oleh Pakistan. Penolakan ini memicu reaksi keras dari Amerika Serikat, di mana Presiden Donald Trump mengeluarkan ancaman serangan besar-besaran jika blokade Selat Hormuz tidak segera diakhiri.
Pihak Teheran menegaskan bahwa mereka tidak tertarik pada jeda pertempuran sementara. Dalam pernyataan resminya, perwakilan diplomatik Iran menyatakan bahwa mereka hanya akan menerima kesepakatan yang menjamin penghentian perang secara permanen.
“Kami menginginkan jaminan internasional agar tidak diserang kembali di masa depan. Jeda 45 hari tidak cukup tanpa kepastian keamanan yang total,” tulis pernyataan tersebut sebagaimana dikutip dari laporan Reuters, Senin (6/4/2026).
Selain itu, Iran menyatakan hilangnya kepercayaan terhadap jalur diplomasi lantaran serangan udara tetap dilancarkan di tengah proses pembicaraan.
Ultimatum “Neraka” dari Trump
Merespons sikap keras Teheran, Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social dan wawancara dengan Fox News meluncurkan ancaman yang belum pernah terjadi sebelumnya. Trump menetapkan tenggat waktu hingga Selasa malam (7/4/2026) pukul 20.00 ET bagi Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran global di Selat Hormuz.
“Buka Selatnya… atau kalian akan hidup di neraka (Open the F***** Strait… or you’ll be living in Hell*),” tegas Trump dalam pernyataan yang dikutip secara luas oleh media internasional.
Jika ultimatum tersebut diabaikan, Gedung Putih mengisyaratkan akan memperluas target serangan ke infrastruktur sipil yang krusial, termasuk pembangkit listrik dan jembatan di seluruh wilayah Iran. Pakar militer menyebut strategi ini sebagai upaya AS untuk memutus total denyut nadi ekonomi dan logistik Iran.
Gempuran terhadap Ladang Gas South Pars
Sebelum penolakan ini muncul, eskalasi fisik sudah terjadi di lapangan. Pasukan militer yang terafiliasi dengan Israel dan AS dilaporkan telah menghantam fasilitas petrokimia di ladang gas South Pars, salah satu sumber energi terbesar di dunia.
Citra satelit menunjukkan kerusakan signifikan pada Kilang Nomor 4 dan 7 di wilayah Asaluyeh. Serangan ini tidak hanya mematikan sebagian besar pasokan gas domestik Iran, tetapi juga menewaskan sejumlah petinggi intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Dunia di Ambang Krisis Energi
Blokade Selat Hormuz yang dilakukan Iran sejak Februari 2026 telah mencekik pasokan minyak dunia, menyebabkan lonjakan harga energi di berbagai negara.
Hingga saat ini, Pakistan dan Oman masih terus mengupayakan jalur belakang (back-channel diplomacy) untuk meredakan situasi sebelum tenggat waktu “jam neraka” yang ditetapkan Trump habis. Namun, dengan koordinasi militer Iran bersama kelompok proksinya yang masih intens, kawasan Teluk kini berada dalam posisi paling rentan dalam satu dekade terakhir.
