

Barru, Petta – Pemerintah Desa Cilellang di Kabupaten Barru kembali menggelar tradisi adat Mappalili. Ritual turun sawah ini berlangsung di area persawahan Dusun Cilellang Selatan, Rabu (7/10/2026). Acara tersebut menjadi penanda resmi dimulainya musim tanam warga setempat.
Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari turut hadir langsung di tengah-tengah petani. Kehadirannya disambut antusias oleh masyarakat dan jajaran perangkat desa. Kepala Desa Cilellang Perawati mengapresiasi bupati yang sudah dua tahun berturut-turut mengikuti tradisi di wilayahnya.
“Selamat datang kepada Ibu Bupati beserta rombongan di Desa Cilellang. Tahun lalu Ibu Bupati juga hadir di acara Mappalili di Dusun Cilellang Utara, tahun ini di Cilellang Selatan,” ujarnya.
Perawati menjelaskan bahwa lokasi pelaksanaan Mappalili tahun ini sangat sakral. Tempat ini secara turun-temurun selalu menjadi titik awal ritual sebelum petani menggarap lahan.
“Kita melaksanakan Mappalili atau turun sawah dengan harapan semoga nantinya bisa turun hujan, kita bisa bertani dan mendapatkan hasil yang melimpah dan dibebaskan dari hama,” katanya.
Pada kesempatan itu, ia juga menyisipkan aspirasi terkait perbaikan akses jalan bagi petani. “Harapan kami mewakili para kelompok tani, mudah-mudahan jalan tani yang kita lewati tadi bisa diperhatikan. Alhamdulillah ada kabar baik katanya sudah bisa dikerjakan tahun ini,” ungkapnya.
Antisipasi Fenomena Iklim ENSO
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Barru Ahmad memberikan pandangan dari sisi teknis. Ia mengapresiasi langkah cepat warga Desa Cilellang dalam merespons jadwal musim tanam.
“Desa Cilellang ini sangat responsif terhadap yang namanya turun sawah. Turun sawah itu adalah bagian dari kebahagiaan dan kesiapan untuk menyongsong pola tanam,” ujarnya.
Meski begitu, Ahmad mengingatkan adanya ancaman fenomena iklim ENSO. BMKG memprediksi hujan baru akan mengguyur wilayah pesisir barat Sulawesi Selatan pada pekan ketiga November mendatang.
“Prinsipnya wajib seluruh kelompok tani di Kabupaten Barru mengikuti iklim, jangan melawan iklim,” tegasnya.
Untuk menyiasati hal tersebut, ia menyarankan percepatan penanaman, penyesuaian pola tanam, dan penggunaan varietas berumur pendek. Ahmad juga mengingatkan tingginya capaian panen dan harga gabah pada tahun sebelumnya.
“Ini yang membuat Nilai Tukar Petani (NTP) kita naik. Petani bahagia karena produksi bagus dan harga tinggi,” katanya.
Mappalili Sebagai Wujud Doa
Dalam sambutan utamanya, Bupati Andi Ina menegaskan makna mendalam di balik tradisi Mappalili. Ia meminta masyarakat tidak menganggap ritual adat ini sebagai acara seremonial semata.
“Mappalili ini bukan sekadar hanya turun dengan para pejabat mencangkul dan kemudian selesai. Tetapi Mappalili ini adalah doa. Kita memulai pekerjaan dengan Bismillah, kita memanjatkan doa semoga apa yang kita lakukan itu insya Allah akan memberikan manfaat besar untuk masyarakat, khususnya para petani,” ujar Andi Ina.
Bupati perempuan pertama di Barru itu juga mengingatkan pentingnya menjaga budaya warisan leluhur.
“Ini harus terus kita jaga. Jangan sampai Mappalili ini hilang. Inilah kewajiban kita semua untuk terus menjaga budaya dari orang tua kita yang mengajarkan bahwa ada Allah di atas yang mengatur semuanya,” katanya.
Selanjutnya, ia mengimbau para petani agar selalu kompak. “Kalau kita kuat bersama, apapun masalah pertanian kita akan teratasi. Jangan kita jalan sendiri, jangan hanya mendengar orang di sana pakai bibit beda terus kita ikut. Belum tentu hasilnya sama karena kondisi lahan berbeda. Ikuti arahan penyuluh dan pemerintah,” tegasnya.
Andi Ina juga meminta tenaga penyuluh untuk bekerja proaktif di lapangan. “Tugas penyuluh itu adalah pendampingnya petani. Harus tahu apa masalahnya petani dan harus tersampaikan kepada pimpinan agar ada solusinya. Jangan biarkan petani bermasalah dilihat saja,” ujarnya.
Terkait cuaca kemarau, bupati mengajak warga untuk memperbanyak doa. “Kita manusia bisa berencana, BMKG bisa membaca dengan alat, tetapi ada kuasa yang lebih besar yaitu Allah SWT. Saya yakin kalau kita perbanyak berdoa, insya Allah hujan bisa lebih cepat dari minggu ketiga November,” ucapnya.
Kawal Anggaran Pertanian
Pada penghujung arahannya, Andi Ina merespons permintaan terkait pembangunan infrastruktur pendukung. Ia memastikan program jalan tani dan bantuan alat mesin pertanian segera direalisasikan.
“Insya Allah ada jalan tani nantinya yang akan dikeluarkan melalui Dinas Pertanian. Tapi saya berpesan, jalan tani ini tidak boleh memotong persawahan, tidak boleh mengurangi jumlah luasan lahan sawah yang ada,” katanya.
Lebih lanjut, ia memberikan peringatan tegas mengenai program cetak sawah baru. Pemerintah daerah tidak ingin anggaran negara terbuang sia-sia karena tidak tepat sasaran.
“Saya tekankan kepada cetak sawah itu jangan hanya melihat program itu kita dapat dan kemudian langsung diambil. Harus tepat sasaran. Jangan sampai lahan yang dijadikan cetak sawah ternyata bukan lahan pertanian dan tidak bisa ditanam. Akhirnya anggaran terbuang. Satu rupiah anggaran itu sangat berarti untuk masyarakat. Lebih bagus tolak kalau memang tidak bisa dimanfaatkan,” pungkasnya.