

JAKARTA, Petta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum lepas dari tekanan pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Setelah anjlok 3,78 persen sehari sebelumnya, indeks ditutup melemah 0,88 persen ke level 4.860,94 pada akhir sesi I.
IHSG dibuka di 4.856,96 dan sempat menyentuh titik terendah 4.824,36 di awal sesi. Indeks lalu berbalik menguat hingga 4.902,71, tepat di bawah penutupan hari sebelumnya. Menjelang siang, IHSG kembali turun dan bertahan di kisaran 4.850–4.870.
Nilai transaksi sesi I mencapai Rp5,86 triliun dari 15,68 miliar saham yang diperdagangkan. Sebanyak 525 saham melemah, 116 menguat, dan 73 stagnan. Tekanan jual pun merata di hampir semua sektor.
Energi dan Barang Baku Paling Tertekan
Sektor energi memimpin pelemahan. Saham energi turun 2,71 persen, disusul barang baku 2,61 persen dan konsumen non primer 2,41 persen. Sektor industri melemah 1,96 persen, sementara kesehatan turun 1,91 persen.
Bursa Asia ikut tertekan. Nikkei Tokyo turun 4,45 persen dan KOSPI Korea Selatan melemah 3,49 persen. Adapun Shanghai dan Hang Seng masing-masing turun 0,10 persen dan 0,20 persen. Panin Sekuritas menyebut posisi penutupan sesi I ini sebagai level terendah IHSG sejak September 2020.
Tekanan itu berlanjut dari Selasa (3/11). Pada hari itu, IHSG ditutup anjlok 3,78 persen atau kehilangan 192,54 poin ke posisi 4.904,29. Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan tersebut sejalan dengan koreksi Wall Street, terutama dari saham teknologi dan kecerdasan buatan. Saat itu, saham BBRI turun 5,67 persen ke Rp2.660 dan BBCA turun 2,81 persen ke Rp4.840 per saham. Saham Hari Ini 4 November 2026: IHSG Kembali Tertekan, Anjlok Lebih dari 1 Persen, Investor Wajib Waspada!
Isu Penyadapan, MSCI, dan Data Ekonomi
Sentimen domestik ikut membebani pasar. Menurut laporan IDN Times, pelemahan sesi I terjadi di tengah ketidakpastian politik akibat isu penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto. Bareskrim Polri mengumumkan penetapan tiga jenderal sebagai tersangka kasus itu pada Selasa malam. Narasumber dalam laporan tersebut menyebut investor akan mencermati dampaknya terhadap kepastian hukum, kredibilitas institusi, dan konsistensi kebijakan. Ia juga mengingatkan bahwa pelemahan pasar tidak bisa dikaitkan dengan satu faktor saja.
Dua agenda lain juga membuat investor berhati-hati. Pasar menunggu rebalancing MSCI pada 11 November dan rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026 yang dijadwalkan Kamis (5/11).
Analis berbeda pandangan soal arah berikutnya. Fanny Suherman melihat peluang rebound teknikal jangka pendek ke 4.950–4.970. Namun, selama indeks belum menembus di atas 4.970, koreksi ke 4.700–4.800 masih mungkin terjadi. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4–5,5 persen dinilai menjadi sentimen positif bila ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Informasi ini merupakan laporan pergerakan pasar dan bukan rekomendasi membeli atau menjual saham tertentu.