Pasar Mobil Listrik Indonesia Melesat 112 Persen, Seberapa Besar Potensinya?

Mobil listrik. (Arsip Voyah)

JAKARTA, Petta – Mobil listrik kini bukan lagi pemain pinggiran di pasar otomotif Indonesia. Sepanjang Januari–September 2026, penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan grosir BEV mencapai 117.218 unit, naik 112,25 persen dari 55.225 unit. Dengan total penjualan 679.020 unit, mobil listrik murni menyumbang sekitar 17 persen pasar. Pada 2022, pangsanya baru 0,99 persen, menurut data Kementerian Perindustrian.

Harga Terjangkau dan Dominasi Merek China

Harga yang lebih terjangkau menjadi pendorong utama. Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menyebut, “Faktor kenaikan penjualan karena banyak kendaraan dengan harga yang lebih terjangkau.” Ia menambahkan, sebagian besar penjualan kendaraan, sekitar 70–80 persen, masih berasal dari segmen di bawah Rp300 juta.

Di sisi model, Jaecoo J5 memimpin dengan 26.635 unit, disusul BYD Atto 1 dengan 24.749 unit, dan produsen China mendominasi pasar BEV. BYD Group sendiri mengklaim penjualan 46.700 unit pada periode yang sama. Head of Marketing PT BYD Motor Indonesia Pramita Sari mengatakan, “Minat masyarakat untuk memilih kendaraan listrik semakin meningkat.”

Pasar luar Jawa ikut digarap. BYD mengoperasikan tujuh titik di Pulau Sulawesi dan berencana menambah hingga 12 lokasi baru. Pernyataan itu disampaikan di sela Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Makassar 2026.

Dari Pasar Menuju Basis Produksi

Pemerintah tidak ingin Indonesia sekadar menjadi pasar. Insentif bea masuk untuk mobil listrik impor utuh (CBU) berakhir pada 31 Desember 2025, dan enam pabrikan wajib berproduksi di dalam negeri pada 2026–2027. Peta jalan pemerintah menetapkan TKDN minimal 40 persen pada 2026, 60 persen pada 2027–2029, dan 80 persen pada 2030.

Tonggaknya terlihat pada awal September. BYD meresmikan pabrik pertamanya di Subang, Jawa Barat, pada Kamis (3/9/2026). Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut, “Indonesia memiliki modal yang kuat untuk membangun mata rantai industri kendaraan listrik secara utuh”. Ia juga melihat peluang menjadikan Indonesia basis ekspor kendaraan listrik ke pasar regional.

Nikel menjadi modal hulu. Setelah hilirisasi nikel sulfat dan kobalt sulfat, periode 2026–2030 diarahkan ke material katoda dan anoda.

Infrastruktur Masih Jadi Pekerjaan Rumah

Meski begitu, jalannya belum mulus. Mobil bermesin pembakaran internal masih mendominasi penjualan nasional. Soal pengisian daya, Ketua Umum KOLEKSI Arwani Hidayat menilai regulasi masih lebih berfokus pada jumlah kendaraan listrik ketimbang infrastrukturnya. Menurut KOLEKSI, perangkat stasiun pengisian masih dikenai bea masuk dan PPN, sehingga biaya pembangunannya tinggi.

Dengan pasar yang bertumbuh cepat, ujian berikutnya adalah menjaga momentum. Tanpa insentif impor, kekuatan harga, produksi lokal, dan jaringan pengisian daya akan menentukan seberapa jauh potensi ini terwujud.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami