
Petta – Di saat publik mengira kisah persahabatan mainan paling ikonik sejagat sinema sudah mencapai titik happy ending yang sempurna, Pixar justru menolak main aman. Sukses menggebrak layar bioskop tanah air sejak pertengahan Juni lalu, Toy Story 5 membuktikan diri bukan sekadar sekuel jualan nostalgia. Lewat tangan dingin sutradara kawakan Andrew Stanton, faksi mainan legendaris ini kembali dengan musuh paling nyata sekaligus paling relatable bagi anak-anak zaman sekarang: kecanduan gadget dan layar sentuh.
Sinopsis: Babak Baru Kamar Bonnie, ‘Plastik’ vs ‘Piksel’
Lupakan sejenak dominasi Woody, karena kali ini tongkat kepemimpinan resmi dipegang oleh Jessie (Joan Cusack) sebagai mainan favorit baru Bonnie. Namun, masa-masa indah itu mendadak terusik saat Bonnie mendapatkan hadiah sebuah tablet anak-anak interaktif super menggemaskan bernama Lilypad (Greta Lee).
Perlahan tapi pasti, atensi Bonnie tersedot penuh ke layar gawai, membuat imajinasi masa kecilnya yang jujur mulai terpinggirkan. Di tengah krisis eksistensial ini, Jessie terpaksa mengambil keputusan nekat: mengaktifkan kembali walkie-talkie lama demi memanggil pulang Woody dari petualangan bebasnya. Kekacauan makin klimaks berkat subplot jenaka saat satu kontainer berisi 50 unit mainan Buzz Lightyear edisi high-tech terdampar di kamar Bonnie dalam kondisi demo mode membuat puluhan Buzz ini mengira mereka sedang menjalani misi militer sungguhan!

Anticipated Movie Feature: Mengapa Sekuel Ini Begitu Dinanti?
Sejak pertama kali diumumkan, proyek kelima ini sempat memicu perdebatan sengit di kalangan pencinta film. Banyak yang skeptis dan menuduh Pixar sekadar melakukan money grabbing. Namun, Toy Story 5 langsung menepis keraguan itu dengan menyuguhkan konflik yang sangat dekat dengan keresahan para orang tua masa kini.
Hebatnya, Pixar tidak memakai formula kuno yang kolot dengan menstigma teknologi sebagai hal yang sepenuhnya jahat. Benturan antara geng Jessie dan kubu gadget yang digawangi Lilypad si tablet katak serta Smarty Pants (mainan edukasi toilet yang blak-blakan diisi suara oleh komedian Conan O’Brien) digarap dengan sangat cerdas sebagai refleksi dari tantangan tumbuh kembang Generasi Alfa.
Suara dari Balik Layar Pixar
Sutradara Andrew Stanton mengungkapkan bahwa film ini lahir dari keresahan nyata yang ia tangkap di realitas sosial saat ini. Berbicara mengenai konflik para mainan melawan layar gawai, Stanton menjelaskan:
“Jujur saja, ini bahkan bukan benar-benar tentang pertempuran, melainkan realisasi dari sebuah masalah eksistensial: bahwa tidak ada lagi orang yang benar-benar bermain dengan mainan. Teknologi telah mengubah hidup semua orang, tetapi kami bertanya-tanya apa artinya hal itu bagi kita dan bagi anak-anak kita. Kita tidak bisa begitu saja menjadikan teknologi sebagai penjahatnya.”
Lebih lanjut, Stanton juga menaruh perhatian besar pada bagaimana gawai yang serba instan perlahan bisa mengikis daya imajinasi murni pada anak-anak.
“Ketika saya berbicara tentang mainan, yang sebenarnya saya khawatirkan adalah imajinasi, bahwa anak-anak benar-benar hanya berasumsi [berimajinasi] alih-alih mendapati seluruh dunia dijelaskan kepada mereka di sebuah layar dan di dalam beberapa perangkat yang sudah diprogram sebelumnya.”
Di sisi lain, Pete Docter selaku Chief Creative Officer Pixar, memberikan pandangan yang lebih optimis dan hangat tentang mengapa esensi dari sebuah mainan fisik tidak akan pernah bisa tergantikan oleh apa pun:
“Saya pikir mereka akan selalu ada, akan selalu ada mainan. Saya pikir anak-anak dilahirkan dengan kebutuhan bawaan untuk memahami berbagai hal dan cara untuk melakukannya adalah dengan memainkannya, menyelesaikannya dalam imajinasi Anda atau dalam kehidupan nyata dengan benda-benda fisik. Dan ya, ada teknologi yang seolah-olah merebut perhatian kita. Namun saya pikir itu adalah bagian dari siapa kita sebagai manusia untuk membutuhkan permainan.”
Editor’s Verdict
Dengan angka penjualan tiket yang sudah menembus lebih dari satu juta penonton di Indonesia, Toy Story 5 sukses mengukuhkan posisinya sebagai tontonan wajib tahun ini. Film ini berhasil mengawinkan visual memukau, humor segar khas pasukan “Multi-Buzz”, dan pesan moral yang menohok tanpa terkesan menceramahi. Sebuah surat cinta yang manis sekaligus refleksi penting bagi kita semua di era digital. Jangan sampai kelewatan keseruannya di bioskop kesayangan Anda akhir pekan ini!