Bakar Diri di Depan Markas PBB, Aktivis Tibet Ini Tewas usai Kecam UU Baru China

Seorang pria yang diidentifikasi oleh Voice of Tibet sebagai aktivis Tibet, Lobga Rangzen, berjalan membawa bendera Tibet di dekat markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada hari Kamis, (2/07/2026). (©Lobga Rangzen/Facebook/Reuters)

New York, Petta – Seorang pria yang membawa bendera Tibet meninggal dunia setelah membakar diri di depan markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Kamis (2/7/2026) malam waktu setempat.

Kepolisian New York (NYPD) menyebut petugas yang merespons panggilan darurat sekitar pukul 18.30 waktu setempat menemukan pria berusia 52 tahun dengan luka bakar parah di sekujur tubuhnya. Pria itu kemudian dilarikan ke rumah sakit namun dinyatakan meninggal dunia, dan polisi menyatakan penyelidikan masih berlangsung.

Kronologi Detik-detik Aksi Bakar Diri

Insiden terjadi di kawasan 42nd Street dan First Avenue, tak jauh dari markas PBB di Manhattan. Berdasarkan rekaman yang beredar, pria tersebut sempat menggelar bendera Tibet di jalan sebelum menyiramkan cairan mudah terbakar ke tubuhnya dan menyalakan api. Ia terjatuh ke tanah kurang dari semenit setelah tubuhnya diselimuti api, sementara arus lalu lintas tetap bergerak diiringi bunyi klakson kendaraan. Petugas kepolisian dan personel keamanan yang bergegas ke lokasi berhasil memadamkan api dalam waktu sekitar 15 detik.

Korban diidentifikasi oleh sejumlah sumber komunitas Tibet sebagai Lobga Rangzen (juga dieja Loga Rangzen), yang dilaporkan telah tinggal di Amerika Serikat selama sekitar dua dekade dan berprofesi sebagai pengemudi Uber.

Petugas di lokasi kejadian juga mengumpulkan sejumlah selebaran yang disebar korban sebelum aksinya, salah satunya bertuliskan “CHINA OUT OF TIBET”, slogan yang lekat dengan gerakan kemerdekaan Tibet atau kampanye “Free Tibet”.

Sosok Korban dan Alasan di Balik Aksinya

Presiden International Campaign for Tibet, Tencho Gyatso, membenarkan identitas korban dan memberikan pernyataan kepada AFP. “Lobga was a tireless advocate for Tibet who devoted himself to peacefully raising awareness of the human rights crisis in Tibet,” ujar Gyatso.

Menurut Gyatso, Rangzen sebelumnya mengecam undang-undang baru China bertajuk “Law on Promoting Ethnic Unity and Progress” yang oleh Beijing diklaim bertujuan membentuk identitas nasional bersama di antara kelompok etnis. Namun para aktivis di luar negeri menilai aturan itu justru akan semakin mengikis hak-hak kelompok minoritas seperti warga Uighur dan Tibet.

Sesama pengemudi Uber yang mengenal Rangzen dari komunitas Tibet, Lobsang Paljor, mengatakan korban geram dengan pembatasan yang diberlakukan pemerintah China terhadap warga Tibet, termasuk soal bahasa. “They have to speak the Mandarin language; they must learn Chinese. They must read that literature; they cannot learn anything else. That’s the main thing he was worried about,” tutur Paljor. Ia menambahkan, “I am emotionally so sad. He should not have done that.”

Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut menyampaikan belasungkawa. “We are saddened by this tragic and horrific incident, and offer our condolences to his family,” kata juru bicara tersebut dalam pernyataan kepada AFP.

Sejarah Panjang Bakar Diri sebagai Bentuk Protes Tibet

Aksi bakar diri bukan hal baru dalam gerakan protes warga Tibet terhadap pemerintahan China. International Campaign for Tibet mencatat lebih dari 150 kasus bakar diri oleh warga Tibet sejak 2009 hingga 2022. China menguasai Tibet sejak mengirim pasukan pada 1950 dan menyebut dataran tinggi tersebut sebagai bagian integral dari wilayahnya selama lebih dari tujuh abad, sementara kelompok hak asasi manusia internasional kerap mengecam apa yang mereka sebut sebagai pemerintahan represif China di kawasan tersebut — tudingan yang selalu dibantah Beijing.

Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama yang kini berusia 90 tahun, telah bermukim di India sejak melarikan diri dari Lhasa menyusul penumpasan pemberontakan oleh pasukan China pada 1959. Beijing hingga kini tidak mengakui pemerintahan Tibet di pengasingan dan tidak lagi menggelar dialog dengan perwakilan Dalai Lama sejak 2010.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts