Ekonomi Vietnam Tumbuh 9 Persen, Mengapa Indonesia Bisa Tertinggal?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto

Petta – Pertumbuhan ekonomi Vietnam sukses mencuri perhatian dunia setelah mencatatkan angka impresif pada kuartal III-2026. Saat Indonesia masih tertatih untuk mempertahankan pertumbuhan di level 5 persen, negara tetangga ini justru melesat nyaris menyentuh dua digit. Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan besar di benak publik. Mengapa Indonesia seolah tertinggal jauh dari Vietnam?

Laju Pertumbuhan yang Terus Melebar

Berdasarkan data terbaru, ekonomi Vietnam tumbuh sebesar 9,95 persen secara tahunan (year-on-year) pada kuartal ketiga tahun ini.Pencapaian tersebut melesat tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di angka 8,81 persen. Tren positif ini secara konsisten terus berlanjut sejak awal tahun.

Sementara itu, laju ekonomi Indonesia cenderung lebih moderat dan tertahan.Pada kuartal II-2026, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi nasional hanya tumbuh 5,29 persen.Angka ini bahkan mengalami perlambatan dari capaian kuartal I yang sempat menyentuh 5,61 persen.

Tentu saja, melebarnya jarak pertumbuhan ini bukan sekadar perbedaan angka di atas kertas. Kondisi tersebut mencerminkan perbedaan arah pembangunan ekonomi dan fundamental industri dari kedua negara.

Fokus Manufaktur Orientasi Ekspor

Salah satu kunci utama keberhasilan Vietnam terletak pada dominasi sektor manufaktur yang berorientasi ekspor. Fakta ini disoroti oleh pengamat ekonomi, Anthony Budiawan. Menurutnya, selama rentang Januari–Agustus 2026, nilai ekspor Vietnam telah menembus 374,84 miliar dollar AS.

“Ekspor Vietnam hampir dua kali lipat Indonesia, tepatnya 1,94 kali,” tegas Anthony.Sebaliknya, total ekspor Indonesia pada periode yang sama hanya tertahan pada nominal 193,64 miliar dollar AS.

Lebih lanjut, struktur barang yang diekspor pun sangat berbeda.Vietnam sudah gencar menjual produk manufaktur andalan seperti elektronik dan mesin, yang menyumbang 90,2 persen dari total ekspor.Di lain sisi, Indonesia masih sangat bergantung pada penjualan komoditas mentah dan turunannya, terutama kelapa sawit.

Selain itu, integrasi Vietnam ke dalam rantai pasok manufaktur global membuat mereka sangat diuntungkan.Ketika permintaan global meningkat, mesin ekspor manufaktur mereka secara otomatis menghasilkan dorongan pertumbuhan ekonomi yang kuat.

Transisi Teknologi dan Kawasan Industri

Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak menutup mata terhadap ketertinggalan ini. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengakui bahwa Vietnam telah melangkah lebih jauh dalam hal transisi teknologi.

Menurut Airlangga, Indonesia saat ini masih terus berjuang untuk naik dari industri level dua menuju level tiga.Pada tahapan level tiga tersebut, industri sebuah negara sudah harus mulai merambah ranah digitalisasi, semikonduktor, hingga kecerdasan buatan (AI).

“Vietnam sudah ke sana, India juga sudah di sana. Maka kita yang belum naik dari level 2 ke level 3,” ujar Airlangga menjelaskan akar masalahnya.

Tidak hanya perkara teknologi canggih, kesiapan infrastruktur kawasan industri juga menjadi pembeda yang nyata.Vietnam tercatat telah mengembangkan jaringan kawasan industri yang sangat masif guna menarik modal asing. Mereka sukses memadukan ketersediaan lahan dengan fasilitas listrik, pelabuhan, hingga prosedur kepabeanan yang efisien.

Oleh karena itu, Indonesia perlu segera membenahi sistem industrialisasinya.Mengandalkan konsumsi domestik serta kekayaan sumber daya alam nyatanya belum cukup tangguh untuk mengejar laju lari sang tetangga.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami