Mentan Amran Ungkap Fenomena Konglomerat Dunia “Borong” Lahan Pertanian, Ada Apa?

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman bersama Wakil Direktur Utama Perum Bulog, Marga Taufiq meninjau langsung Gudang Bulog Panaikang 1 di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (05/04/2026). (©Hortus)

Jakarta, Petta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan peringatan serius mengenai dinamika sektor pangan global. Ia mengungkapkan bahwa para konglomerat dan miliarder dunia kini secara diam-diam mulai beralih fokus dengan mengamankan aset berupa lahan pertanian dalam skala besar.

Fenomena ini, menurut Amran, bukan sekadar strategi bisnis biasa, melainkan sebuah sinyal kuat akan adanya ancaman krisis pangan global di masa depan.

Amran menyebutkan sejumlah nama besar seperti Bill Gates hingga Jeff Bezos yang kini tercatat sebagai pemilik lahan pertanian swasta terluas. Menurutnya, para pemilik modal ini sudah membaca arah masa depan di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan iklim.

“Sekarang konglomerat dunia, orang terkaya dunia, diam-diam masuk ke sektor pertanian. Mereka membeli lahan jutaan hektare,” ujar Amran dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).

Ia menambahkan bahwa di masa depan, penguasaan atas sumber pangan akan jauh lebih berharga dibandingkan sektor teknologi maupun energi.

“Dahulu orang bangga dengan teknologi, sekarang mereka kembali ke pangan. Karena mereka tahu, dalam kondisi krisis, yang bisa menyelamatkan sebuah bangsa adalah pangan, bukan yang lain,” tegasnya.

Geopolitik dan Ancaman “El Nino Godzilla”

Selain pergeseran investasi global, Amran juga menyoroti panasnya situasi di Asia Barat, khususnya konflik yang melibatkan Iran di Selat Hormuz. Gangguan pada jalur logistik internasional tersebut diprediksi akan memicu lonjakan harga pangan dunia secara drastis.

Di dalam negeri, tantangan tak kalah besar datang dari faktor alam. Pemerintah tengah bersiap menghadapi fenomena iklim ekstrem yang dijuluki “El Nino Godzilla”.

“Kita menghadapi El Nino Godzilla, kekeringan ekstrem yang diprediksi berlangsung selama enam bulan ke depan. Ini ancaman nyata bagi produksi pertanian kita,” jelas Amran.

Stok Beras Nasional Melimpah

Meski dibayangi ancaman global dan iklim, Mentan memastikan bahwa ketahanan pangan Indonesia saat ini berada dalam posisi yang cukup tangguh. Ia mengklaim stok beras yang dikelola pemerintah melalui Perum Bulog mencapai angka tertinggi dalam sejarah.

“Dulu gudang Bulog kosong, sampai-sampai disewakan. Sekarang kebalikannya, kita yang harus cari gudang tambahan karena stok kita melimpah, mencapai 4,6 juta ton,” ungkapnya.

Dengan cadangan tersebut, pemerintah optimistis kebutuhan pangan nasional aman hingga 11 bulan ke depan, atau sekitar 324 hari.

Pangan sebagai Alat Pertahanan

Menutup pernyataannya, Amran menekankan bahwa kedaulatan pangan harus dipandang sebagai bagian dari strategi pertahanan negara. Program pompanisasi dan optimalisasi lahan rawa terus dikebut untuk memastikan Indonesia tidak bergantung pada impor saat negara produsen mulai menutup keran ekspor mereka.

“Pangan adalah senjata. Kalau suatu saat negara produsen menahan stoknya untuk rakyat mereka sendiri, kita harus sudah siap dengan kaki sendiri. Tidak boleh ada sejengkal tanah pun yang menganggur,” pungkas Amran.

Daftar Miliarder Dunia dan Ekspansi Lahan Pertanian

Fenomena yang disinggung Mentan Amran Sulaiman berakar pada pergeseran kepemilikan lahan dari petani tradisional ke korporasi dan individu dengan kekayaan bersih tinggi (High Net Worth Individuals). Berikut adalah beberapa contoh nyata:

  • Bill Gates: Pendiri Microsoft ini secara konsisten membeli lahan pertanian di setidaknya 19 negara bagian AS. Total kepemilikannya diperkirakan mencapai lebih dari 270.000 hektare lahan produktif. Gates memandang lahan pertanian sebagai investasi jangka panjang yang tahan terhadap inflasi dan krusial bagi pengembangan benih unggul.
  • Jeff Bezos: Melalui perusahaan investasinya, pendiri Amazon ini telah mengakuisisi puluhan ribu hektare lahan di wilayah Texas. Fokus utamanya adalah pada keberlanjutan dan integrasi teknologi logistik dalam distribusi pangan.
  • Thomas Peterffy: Miliarder di bidang pialang saham ini memiliki sekitar 581.000 hektare lahan pertanian dan kehutanan. Baginya, lahan adalah aset “nyata” yang paling aman saat pasar modal sedang tidak menentu.

Mengapa Lahan Pertanian Menjadi “Emas Baru”?

Terdapat tiga alasan utama yang mendorong pergeseran investasi ini:

  1. Kelangkaan Sumber Daya: Pertumbuhan populasi dunia menuju 10 miliar jiwa pada 2050 berarti kebutuhan pangan akan naik 70%, sementara jumlah lahan subur justru berkurang akibat degradasi lingkungan.
  2. Ketahanan Inflasi: Berbeda dengan mata uang atau saham teknologi yang volatil, nilai lahan pertanian cenderung stabil dan terus meningkat seiring meningkatnya harga komoditas pangan.
  3. Akses Air: Membeli lahan pertanian sering kali berarti juga mengamankan hak akses atas sumber air bawah tanah yang kini menjadi aset paling diperebutkan di dunia.

Langkah para miliarder ini mempertegas pernyataan Mentan bahwa kedaulatan pangan adalah “garis pertahanan terakhir” sebuah bangsa di masa depan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts