
Makassar, Petta – Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di dalam kawasan kampusnya. Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto bersama Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana, Selasa (28/4/2026).
SPPG yang berlokasi di Tamalanrea, Makassar ini menjadi yang pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di kawasan Indonesia Timur. Peresmian berlangsung meriah dan dihadiri Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman, Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung, Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa, serta sejumlah Rektor PTN-BH dari seluruh Indonesia.
Jadi ‘Laboratorium Hidup’
Nama resmi fasilitas ini adalah SPPG Tamalanrea 14, dikelola oleh Yayasan Metavisi Akademika Nusantara yayasan milik Unhas yang berkoordinasi langsung dengan BGN dan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Makassar.
Yang membedakan SPPG Unhas dari dapur MBG pada umumnya adalah konsepnya yang jauh melampaui fungsi produksi makanan semata. Rektor Unhas Prof. Jamaluddin Jompa menyebut fasilitas ini sebagai laboratorium hidup.
“SPPG ini tidak sekadar dapur, tetapi menjadi laboratorium hidup yang mengintegrasikan pelayanan gizi dengan pendidikan, riset, dan inovasi,”
Prof. Jamaluddin Jompa, Rektor Unhas
Ia menambahkan, seluruh proses yang berlangsung di dalamnya bisa dipantau dan dievaluasi berbasis data ilmiah. Intervensi gizi yang disasar pun beragam — mulai dari anak-anak, ibu hamil, hingga kelompok rentan lainnya.

2.200 Porsi Per Hari, Dana Infrastruktur dari Kas Unhas
Secara kapasitas, SPPG Tamalanrea 14 siap memproduksi 2.200 porsi makanan per hari untuk disuplai ke sekolah-sekolah sasaran di sekitar kampus.
Kepala Bidang Humas Unhas, Ishaq Rahman, menjelaskan soal skema pembiayaannya yang cukup unik.
“Pembuatan dapur, perekrutan SDM, dan penyiapan infrastruktur seluruhnya menggunakan dana dari Unhas. Sedangkan untuk produksi makanan, dananya berasal dari BGN. Ketentuan BGN, produksi paket makanan tidak boleh memakai dana talangan harus memakai dana yang ditransfer oleh BGN,”
Ishaq Rahman, Kepala Bidang Humas Unhas
Dari sisi fasilitas, Unhas sengaja membangun gedung baru khusus untuk dapur ini, dilengkapi dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) berstandar tinggi — hal yang justru menjadi titik lemah banyak SPPG lain di Indonesia yang berujung pada penutupan sementara.
“Di banyak tempat, beberapa dapur alami issue karena IPAL yang tidak standar. Makanya ini jadi atensi khusus Unhas saat persiapkan dapur ini,”
Ishaq Rahman, Kepala Bidang Humas Unhas
BGN: Unhas Selalu Terdepan
Kepala BGN Dadan Hindayana secara khusus mengapresiasi langkah Unhas yang dinilai cepat dan responsif. Ia menegaskan Unhas adalah satu-satunya PTN-BH dari kawasan timur Indonesia yang menjadi pelopor program ini.
“Di beberapa kampus perguruan tinggi swasta sudah ada, tapi ini yang pertama di perguruan tinggi negeri di Indonesia Timur. Unhas selalu leading dalam hal tersebut dan saya ucapkan selamat,”
Dadan Hindayana, Kepala BGN
Dadan juga memuji kualitas infrastruktur yang dibangun Unhas dibanding SPPG lainnya.
“Keterbukaan kampus untuk terlibat dalam program MBG sangat penting karena teknologi, SDM, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi akan banyak manfaatnya untuk pengembangan program ini,” imbuhnya.
Ia pun mendorong Unhas untuk terus mengembangkan jangkauan SPPG-nya.
“Saya menantikan keterlibatan seluruh perguruan tinggi. Mungkin bisa dimulai dari lingkungan kampus terlebih dahulu, kemudian jika sudah berjalan dengan baik dapat diperluas. Universitas Hasanuddin diharapkan minimal dapat memiliki satu SPPG di setiap kabupaten,” ujar Dadan.
Mendikti: Kampus Tak Boleh Jadi Penonton
Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyebut langkah Unhas sebagai bukti nyata bahwa perguruan tinggi harus aktif berkontribusi pada program prioritas nasional.
“Intinya adalah bagaimana dari perguruan tinggi bisa menjalankan peran untuk mendukung program prioritas Bapak Presiden, salah satunya adalah program MBG,” kata Brian saat peresmian.
Brian Yuliarto, Mendiktisaintek
Ia menegaskan SPPG Unhas ke depannya akan difungsikan sebagai teaching factory ruang praktik sekaligus laboratorium riset bagi dosen dan mahasiswa lintas disiplin.
“SPPG ini nantinya bisa menjadi tempat praktik, penelitian, dan pengembangan lebih lanjut program MBG,” ujar Brian.
Potensi Jadi Model Nasional
Di sela forum U25 Leaders Forum Rektor PTN-BH yang turut digelar di Unhas Hotel & Convention pada hari yang sama, Dadan memaparkan visi besarnya. Ia menyebut model SPPG berbasis kampus yang dikembangkan Unhas berpotensi dijadikan acuan di tingkat nasional.
Unhas sendiri sudah mengintegrasikan sektor pertanian dan peternakan internal kampus sebagai pemasok bahan baku, demi memperpendek rantai pasok pangan secara efisien. Keterlibatan mahasiswa di ranah agritech, teknologi pangan, hingga kewirausahaan sosial pun dibuka seluas-luasnya.
Tak hanya itu, nama Unhas juga masuk dalam daftar perguruan tinggi yang dilibatkan dalam pengembangan ekosistem pangan untuk mendukung MBG di Papua — bersama Universitas Airlangga dan Universitas Brawijaya sebagai perluasan dari tujuh kampus utama yang sebelumnya sudah terlibat.