

Petta – Sepekan sejak tayang di bioskop Indonesia pada 15 Juli 2026, film The Odyssey garapan Christopher Nolan terus menjadi perbincangan hangat, bukan hanya karena skala produksinya yang megah, tetapi juga karena interpretasi baru yang ditawarkan atas kisah klasik Homer.
Peringatan: artikel ini mengandung spoiler bagi yang belum menonton The Odyssey.
Alih-alih menghadirkan Odysseus sebagai pahlawan gagah yang pulang membawa kemenangan, Nolan justru menggambarkan Raja Ithaca itu sebagai veteran perang yang trauma dan diam-diam enggan pulang ke rumah. Film dibuka dengan narasi dari seorang pendongeng yang diperankan musisi Travis Scott, sebuah pilihan yang menegaskan tema besar film ini: bagaimana cerita bisa membebaskan sekaligus menipu penikmatnya.
Twist Mengejutkan: Trojan Horse Bukan Lagi Simbol Kemenangan
Bagian paling mengejutkan dari The Odyssey terletak pada cara Nolan membalikkan pemaknaan atas siasat kuda kayu Troya yang selama ini dipuji sebagai kecerdikan Odysseus. Dalam versi Nolan, siasat tersebut justru diperlihatkan sebagai pengkhianatan besar. Kuda kayu itu dihadirkan sebagai tanda perdamaian, namun dipakai untuk menyusup dan melancarkan pembantaian terhadap warga Troya, termasuk perempuan dan anak-anak.
Film ini juga menempatkan konsep xenia atau keramahtamahan sebagai fondasi utama cerita, jauh lebih ditekankan dibanding dalam teks aslinya. Prinsip untuk selalu menyambut orang asing, karena siapa pun bisa jadi jelmaan dewa, menjadi benang merah yang menyambungkan seluruh petualangan Odysseus, mulai dari pertemuannya dengan Cyclops, Circe, hingga suku raksasa pemakan manusia, Laestrygonian.
Puncaknya, Odysseus pada akhirnya menyadari bahwa dirinyalah sosok “orang asing” yang selama ini ditakuti dan dibenci karena kekejaman yang ia lakukan sendiri di Troya. Dialog Penelope, yang diperankan Anne Hathaway, turut menegaskan keresahan tersebut. “Those stories are true, our civilization is collapsing,” ujar Penelope dalam salah satu adegan.
Sosok Athena dan Respons Kritikus yang Terbelah
Salah satu elemen paling diperbincangkan dari film ini adalah kemunculan Athena yang diperankan Zendaya. Sepanjang film, sosok dewi itu berulang kali muncul di hadapan Odysseus layaknya suara hati yang menuntunnya. Baru di adegan penutup terungkap bahwa kemunculan Athena berkaitan erat dengan ingatan traumatis Odysseus saat penjarahan Troya, yakni sosok perempuan muda berwajah mirip Athena yang menjadi korban kekejaman prajurit Yunani. Nolan sengaja membiarkan ambigu apakah itu benar-benar dewa Athena, atau sekadar bayang-bayang rasa bersalah Odysseus yang terus menghantuinya.
Dari sisi kritik, respons terhadap The Odyssey terbilang terbelah. Kritikus film Roger Ebert menilai Nolan kembali berhasil menghadirkan karya yang megah dan imersif lewat film ini. Di sisi lain, sejumlah kritikus di Metacritic menilai pendekatan Nolan yang minim unsur mitologi justru mengecewakan penggemar teks asli maupun pembaca setia karya sastra Homer.
Terlepas dari perdebatan tersebut, satu hal yang disepakati banyak pihak adalah keberanian Nolan mengubah kisah yang telah berumur ribuan tahun menjadi renungan tentang trauma perang dan tanggung jawab moral, sebuah pendekatan yang membuat The Odyssey layak ditonton di layar IMAX sekaligus didiskusikan panjang lebar usai lampu bioskop menyala kembali.