Fenomena Jersey PSM Makassar x Adidas: Antrean Mengular dan Nilai yang Melampaui Harga

Legenda hidup PSM Makassar, Syamsul Haeruddin bersama anggota skuad tim berpose mengenakan jersey terbaru kolaborasi PSM Makassar bersama apparel dunia Adidas. (©PSM Makassar)

Petta – Antrean mengular, wajah-wajah penuh harap, dan gema ‘Ewako!’ yang bersahutan. Pemandangan ini bukan untuk sebuah konser atau peluncuran gadget terbaru, melainkan untuk sebuah benda yang menyatukan gairah dan gaya: jersey terbaru PSM Makassar. Pada hari pertama penjualan, Kamis, 18 September 2025, ratusan suporter dan kolektor memadati official store PSM di Makassar, menciptakan pemandangan yang tak biasa di industri olahraga lokal.  

Ini adalah sebuah reuni, sebuah narasi yang jauh melampaui sekadar produk baru. Kolaborasi antara PSM Makassar dan Adidas adalah babak ketiga dari sebuah hubungan historis yang telah terjalin sejak era 90-an. Jauh sebelum peluncuran, manajemen PSM secara cerdas memainkan kartu nostalgia. Unggahan foto legenda hidup klub, Ronald Fagundez, yang mengenakan jersey Adidas musim 2005 langsung membangkitkan memori indah para suporter tentang penampilan tim di Liga Champions Asia. Unggahan kolaborasi dengan akun @adidasindonesia kemudian mengunci narasi ini dengan slogan yang kuat: “ewako spirit 🤝 three stripes”. Perpaduan semangat  

Ewako yang heroik dengan tiga garis ikonik Adidas berhasil mengubah jersey ini dari sekadar merchandise menjadi sebuah simbol yang beresonansi secara emosional.

Ketika Desain Berkelas Berbicara

Jersey terbaru ini mencerminkan filosofi yang dalam. Ia adalah perpaduan harmonis antara desain global yang minimalis dan identitas lokal yang kaya makna. Seragam kandang tetap setia dengan warna merah marun andalan, hadir dengan kesan “sederhana, elegan, dan mewah”. Sementara itu, jersey tandang mengusung tema “  

Simply meets bold,” yang menekankan perpaduan antara kesederhanaan dan keberanian.  

Namun, detail yang paling mencuri perhatian adalah pada jersey kiper. Dalam warna dasar dark cyan, jersey ini menyematkan siluet kapal Pinisi, lambang kebesaran dan kegigihan masyarakat Sulawesi Selatan . Penggunaan teknologi AEROREADY dan material dari 100% serat daur ulang juga menunjukkan komitmen Adidas terhadap kualitas dan keberlanjutan. Singkatnya, ini adalah sebuah produk yang dirancang bukan hanya untuk performa, tetapi juga untuk estetika dan narasi.  

Nilai yang Menggugah, Dibalut Estetika

Bagi banyak orang, harga jersey edisi player issue yang dibanderol Rp1.000.000 mungkin terdengar fantastis, kenaikan 25% dari harga jersey musim sebelumnya yang menggunakan apparel lokal. Namun, Direktur Pengembangan Bisnis dan Komersial PSM, Hafit Timor Mas’ud, menyatakan bahwa harga tersebut “cukup terjangkau”. Pernyataan yang mungkin terasa kontradiktif ini justru menjadi kunci.  

Bagi suporter, mereka tidak hanya membeli selembar pakaian, melainkan sebuah pernyataan status dan bagian dari warisan merek global. Nilai yang dipersepsikan (perceived value) dari kolaborasi dengan merek sekelas Adidas mengubah dinamika pasar. Di mata para kolektor, jersey ini bahkan menjadi buruan wajib. Salah satu kolektor di media sosial menyebut desain jersey PSM ini “keren” dan konsisten, berbeda dari jersey klub besar lain yang kerap dianggap “gagal” karena terlalu padat sponsor layaknya “spanduk” . Jersey ini tidak hanya memiliki nilai merek, tetapi juga nilai estetika yang tinggi di mata komunitas kolektor.

Sebuah Titik Balik di Industri Olahraga Lokal

Peluncuran jersey PSM x Adidas ini lebih dari sekadar kesuksesan komersial bagi klub. Ini adalah titik balik potensial bagi lanskap apparel di sepak bola Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, pasar didominasi oleh merek lokal. Kehadiran kembali Adidas seolah membuka pintu yang telah lama terkunci.  

Ini mengingatkan kita pada era 90-an dan awal 2000-an, di mana Persib Bandung pernah bermitra dengan Adidas dan Nike , dan Persija Jakarta bekerja sama dengan Adidas, Reebok, dan Nike sebelum beralih ke merek lokal. Kolaborasi PSM-Adidas ini bisa menjadi pemicu bagi merek global lainnya untuk kembali melirik pasar Indonesia, menciptakan persaingan yang lebih sehat, dan mendorong standar kualitas serta profesionalisme yang lebih tinggi di seluruh liga.  

Pada akhirnya, jersey ini adalah bukti nyata bahwa ketika sport dan fashion bertemu, mereka bisa menghasilkan sebuah fenomena budaya. Ia adalah narasi tentang gairah suporter, strategi branding yang cerdas, dan sebuah simbol yang diburu, dikoleksi, dan dikenakan dengan bangga, jauh melampaui sekadar seragam untuk sebuah pertandingan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts