
Barru, Petta – Wakil Bupati Barru, Abustan Andi Bintang, menutup rangkaian Safari Ramadan 1447 Hijriah tingkat kabupaten di Masjid Nurul Mu’minin, Dusun Bette, Desa Jangan-Jangan, Kecamatan Pujananting, Rabu malam (11/3/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Abustan memberikan apresiasi sekaligus peringatan keras mengenai keseimbangan lingkungan di Desa Jangan-Jangan yang dikenal sebagai sentra produksi nanas. Ia mengingatkan bahwa eksploitasi lahan yang berlebihan tanpa memperhatikan aspek ekologis dapat memicu bencana besar.
“Berdasarkan BMKG, Barru adalah kabupaten paling rawan banjir di Sulawesi Selatan. Hampir seluruh wilayah di sini sudah 100 hektar lebih ditanami nanas. Tapi persoalannya, jangan sampai ‘digunduli’ semua,” ujar Abustan mengingatkan warga.
Mitigasi Bencana dan Keseimbangan Alam
Abustan menyarankan agar petani menyisakan 15-20 persen area di puncak bukit untuk tetap ditanami pohon besar sebagai penahan erosi dan daerah resapan air. Menurutnya, keuntungan finansial dari komoditas nanas tidak akan berarti jika pada akhirnya mendatangkan bencana bagi pemukiman.
“Jangan sampai kita menghasilkan uang besar 1 hektar nanas bisa Rp140 juta per tahun, tetapi mudaratnya lebih besar jika bencana datang,” tegasnya.
Terkait komoditas nanas, ia juga mendorong adanya langkah hilirisasi agar masyarakat mendapatkan nilai tambah yang lebih tinggi. “Jangan hanya petik-jual, tapi petik-olah-jual. Bisa jadi selai, jus, bahkan kulitnya diolah jadi bokashi untuk pupuk. Ada siklus ekonomi yang tercipta,” tambah Abustan.
Efisiensi Anggaran dan Infrastruktur Pujananting
Di hadapan jamaah, Wakil Bupati memaparkan tantangan anggaran daerah yang mengalami tekanan akibat kebijakan efisiensi pemerintah pusat demi mendukung berbagai program strategis nasional.
“Seluruh bupati, walikota, dan gubernur yang dilantik bersamaan dengan kami mengalami kemunduran anggaran. Ada Rp133 triliun dialihkan untuk program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), bantuan bencana, Sekolah Rakyat dan Koperasi Merah Putih,” paparnya secara transparan.
Meski demikian, Abustan memastikan infrastruktur di wilayah Pujananting tetap menjadi prioritas utama. Ia menyebutkan berkat upaya Bupati Barru, Kecamatan Pujananting mendapat alokasi anggaran terbesar senilai Rp 50 miliar untuk pembangunan ruas jalan Doi-Doi – Salopurru dan Pungranga – Bulo-Bulo.
Pesan Silaturahmi dan Investasi SDM
Selain isu ekonomi dan lingkungan, Abustan mengajak masyarakat untuk kembali merajut tali silaturahmi yang mungkin sempat merenggang pasca-dinamika politik. Ia menegaskan bahwa hubungan antar sesama manusia menjadi kunci keberhasilan pembangunan.
“Jangan sampai setelah Ramadan masih ada di antara kita yang bermusuhan. Mari kita perbaiki hubungan, saling mengenal, saling memahami, saling membantu, dan saling melindungi. Jangan sampai kita dicap sebagai orang yang merugi karena memutus tali silaturahmi,” tuturnya mengutip pesan religius.
Menutup rangkaian sambutannya, ia memohon doa agar duet kepemimpinan di Barru tetap solid. “Kami mohon didoakan agar kami diberikan kesehatan, kekuatan, dan tetap rukun dalam menjalankan amanah memimpin Kabupaten Barru,” pungkasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua TP PKK Kabupaten Barru, jajaran asisten Setda, serta unsur pemerintah kecamatan dan desa setempat.
