
Barru, Petta – Salah satu indikator paling menantang bagi setiap kepala daerah adalah menyediakan lapangan kerja bagi warganya. Di Kabupaten Barru, tantangan ini dijawab dengan angka yang menggembirakan dalam satu tahun pertama kepemimpinan Bupati Andi Ina Kartika Sari dan Wakil Bupati Abustan.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Barru tercatat mengalami penurunan signifikan, dari 6,42 persen pada tahun 2024 menjadi 5,07 persen pada Semester I 2025.
Langkah Berani: Serap 2.000 Pegawai PPPK
Penurunan angka pengangguran yang cukup tajam ini tidak lepas dari kebijakan strategis pemerintah daerah dalam penataan sumber daya manusia. Salah satu faktor kunci adalah keberhasilan pemerintah Kabupaten Barru dalam merekrut sekitar 2.000 pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Langkah ini dianggap sebagai solusi ganda: di satu sisi memperkuat pelayanan publik di instansi pemerintah, dan di sisi lain memberikan kepastian ekonomi serta status kerja bagi ribuan tenaga honorer atau pencari kerja di Barru.
“Kami berkomitmen bahwa birokrasi harus menjadi mesin penggerak ekonomi, bukan sekadar urusan administrasi. Serapan tenaga kerja melalui PPPK ini memberikan stabilitas penghasilan bagi warga kami,” ujar manajemen Pemkab Barru dalam laporan capaian setahunnya.
Efek Domino Program Makan Bergizi Gratis
Selain sektor formal birokrasi, penurunan pengangguran juga dipicu oleh aktivitas ekonomi di akar rumput. Narasi pembangunan mencatat bahwa penyerapan tenaga kerja juga terjadi melalui implementasi kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program ini tidak hanya menyasar perbaikan gizi, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi baru yang melibatkan tenaga lokal dalam proses penyediaan, pengolahan, hingga distribusi makanan. Hal ini membuktikan bahwa program sosial yang dikelola dengan baik dapat bertransformasi menjadi lapangan kerja musiman maupun tetap bagi warga desa.
Konektivitas dan Produktivitas Lahan
Secara tidak langsung, pembangunan infrastruktur jalan sepanjang 15 kilometer melalui Dana Inpres senilai Rp50 miliar turut andil. Akses jalan yang lebih baik memicu gairah di sektor perdagangan dan jasa, yang pada gilirannya membutuhkan lebih banyak tenaga kerja untuk distribusi hasil bumi.
Di sektor pertanian, lonjakan produksi padi hingga 21,81 persen juga menandakan adanya intensitas kerja yang lebih tinggi di lahan-lahan sawah Barru. Dengan luas tanam yang mencapai 36.084 hektare, sektor agraris tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar yang menjaga warga dari jerat pengangguran.
Menatap Masa Depan Inklusif
Keberhasilan menekan angka pengangguran hingga ke level 5 persen ini menjadi modal sosial yang kuat bagi duet Andi Ina-Abustan. Dengan hadirnya Koperasi Merah Putih di 55 desa, pemerintah daerah berharap kemandirian ekonomi masyarakat akan semakin kokoh, sehingga ketergantungan pada lapangan kerja formal dapat diimbangi dengan tumbuhnya wirausaha berbasis desa.
Capaian satu tahun ini menegaskan bahwa pembangunan di Barru tengah bergerak menuju arah yang lebih inklusif, di mana setiap pertumbuhan ekonomi dibarengi dengan terbukanya kesempatan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat.
