
Petta – Di balik seragam militer yang selalu tampak rapi dan sikapnya yang hemat bicara, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno adalah personifikasi dari kesetiaan dan kedisiplinan. Kepergian sang Jenderal pada Senin (2/3/2026) meninggalkan memori mendalam tentang perjalanan seorang prajurit yang meniti karier dari bawah hingga mencapai puncak kepemimpinan nasional.
Dikenal sebagai sosok “ajudan kesayangan” Soeharto, Try Sutrisno membuktikan bahwa dedikasi tanpa pamrih bisa membawa seorang anak sopir ambulans menjadi orang nomor dua di Republik ini.
Titik Balik di Jalan Cendana
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno bukanlah anak dari kalangan elit. Ayahnya, Subandi, adalah seorang sopir ambulans di Dinas Kesehatan Surabaya. Karier militernya dimulai setelah ia lulus dari Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada tahun 1959.
Namun, titik balik yang mengubah garis hidupnya terjadi pada tahun 1974. Kala itu, Try terpilih menjadi Ajudan Presiden Soeharto. Selama empat tahun mendampingi Sang Penguasa Orde Baru, Try tidak hanya belajar tentang protokoler, tetapi juga memahami seluk-beluk pengambilan keputusan politik di tingkat tertinggi.
“Beliau adalah sosok yang mampu menjembatani banyak pihak. Sikapnya yang tenang dan santun membuat Presiden Soeharto sangat menaruh kepercayaan padanya,” kenang Jenderal (Purn) Wiranto dalam sebuah wawancara.
Panglima yang “Turun ke Bawah”
Karier Try melesat bak meteor. Setelah menjabat Pangdam Jaya, ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1986, dan puncaknya menjadi Panglima ABRI pada 1988.
Salah satu kontribusi besarnya yang sering diingat dalam sejarah militer adalah modernisasi alutsista dan upayanya menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika politik akhir tahun 80-an. Namun, di balik ketegasan militernya, Try dikenal sebagai panglima yang sering “turun ke bawah” untuk menyapa prajurit di barak-barak terpencil.
“Wapres Pilihan Rakyat” (1993-1998)
Kisah terpilihnya Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden ke-6 RI pada tahun 1993 adalah salah satu fragmen sejarah yang unik. Berbeda dengan proses biasanya, nama Try Sutrisno dimunculkan lebih dulu oleh fraksi ABRI di MPR sebelum Presiden Soeharto memberikan sinyal resmi.
Meskipun sempat memicu dinamika politik, pencalonan Try mendapat dukungan luas karena kepribadiannya yang dianggap sebagai “pemersatu”. Selama menjabat sebagai Wakil Presiden, ia fokus pada isu-isu kemasyarakatan dan penguatan ideologi Pancasila.
“Pancasila itu bukan sekadar hafalan, tapi tindakan nyata dalam melayani sesama,” adalah salah satu kutipan yang sering beliau sampaikan dalam berbagai forum kenegaraan.
Masa Tua dalam Kesahajaan
Bahkan setelah pensiun, Try Sutrisno tetap menjadi sosok yang dihormati lintas generasi. Ia kerap memberikan wejangan kepada para perwira muda tentang pentingnya moralitas dan integritas. Rumahnya di kawasan Menteng tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin berdiskusi tentang kebangsaan.
Hingga di usianya yang mencapai 90 tahun, sebelum akhirnya dirawat di RSPAD, beliau masih dikenal sebagai pribadi yang taat beribadah dan sangat menjaga hubungan kekeluargaan.
Kontribusi Utama bagi Bangsa:
- Stabilitas Keamanan: Memimpin ABRI dalam masa transisi menuju modernisasi pertahanan.
- Penguatan Ideologi: Menjadi tokoh kunci dalam pemasyarakatan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi bangsa.
- Negarawan Teladan: Menunjukkan sikap legowo dan tetap setia pada konstitusi meski di tengah pergolakan politik 1998.
Kini, sang Jenderal telah beristirahat dengan tenang di TMP Kalibata. Indonesia tidak hanya kehilangan seorang mantan Wakil Presiden, tetapi juga kehilangan kompas moral bagi nilai-nilai kesantunan dalam berpolitik.
