Satu Tahun Andi Ina-Abustan: Saat Indeks Pembangunan Manusia Barru Menembus Status “Tinggi”

Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., bersama Wakil Bupati Dr. Ir. Abustan A. Bintang, M.Si. (©Humas Barru)

Barru, Petta – Satu tahun pertama kepemimpinan Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, bersama Wakil Bupati Abustan Bintang, bukan sekadar angka-angka di atas kertas. Di balik deretan data statistik yang dirilis, terselip sebuah pencapaian krusial yang menyentuh fondasi kualitas hidup masyarakat: Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Kabupaten Barru kini resmi mencatatkan IPM di angka 75,41. Angka ini bukan sekadar kenaikan poin, melainkan simbol perubahan status menuju kategori “Tinggi”.

Bukan Sekadar Angka, Tapi Kualitas Hidup

Meningkatnya IPM Barru menjadi potret utuh bagaimana kesehatan, pendidikan, dan daya beli masyarakat mulai menemukan ritme yang stabil.

Dalam narasi satu tahun pemerintahannya, Andi Ina menekankan bahwa pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan pembangunan manusianya. Salah satu pendorong utama status “Tinggi” ini adalah kepastian layanan dasar.

“Pembangunan itu harus dirasakan langsung oleh detak nadi masyarakat. Bukan hanya jalannya yang mulus, tapi orang yang melintasi jalan itu harus sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ungkap sebuah catatan refleksi satu tahun masa jabatan mereka.

Jaring Pengaman: Dari Kesehatan hingga Kursi Kerja

Ada beberapa faktor kunci yang berkelindan di balik capaian IPM ini:

  • Jaminan Kesehatan Semesta: Keberhasilan meraih UHC Awards 2026 Kategori Madya menjadi bukti bahwa masyarakat Barru tak lagi dihantui kecemasan saat jatuh sakit. Akses kesehatan yang merata menjadi penyumbang besar pada angka harapan hidup.
  • Penyusutan Angka Pengangguran: Secara mengejutkan, tingkat pengangguran terbuka turun signifikan dari 6,42 persen menjadi 5,07 persen. Langkah taktis merekrut sekitar 2.000 pegawai PPPK serta penyerapan tenaga kerja lewat program lokal menjadi katup penyelamat ekonomi keluarga.
  • Pendidikan yang Terjangkau: Melalui optimalisasi dana pusat sebesar Rp300 miliar untuk program “Sekolah Rakyat”, akses pendidikan di Barru kini memiliki napas yang lebih panjang.

Sentuhan Ekonomi dari Desa

Selain sektor sosial, IPM juga dipengaruhi oleh bagaimana masyarakat mampu berdaya secara ekonomi. Langkah Barru menjadi kabupaten pertama di Sulawesi Selatan yang melantik pengurus Koperasi Merah Putih di 55 desa dan kelurahan adalah sebuah terobosan.

Melalui koperasi ini, perputaran uang dan modal tidak lagi hanya berpusat di kota, melainkan tumbuh dari akar rumput. Petani padi yang produksinya melonjak 21,81 persen serta nelayan yang hasilnya melampaui target, kini memiliki wadah untuk mengelola kesejahteraan mereka sendiri.

Kini, dengan IPM berstatus “Tinggi”, Kabupaten Barru tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah perlintasan di Sulawesi Selatan. Ia tengah bersolek menjadi daerah yang menempatkan manusia sebagai pusat dari setiap kebijakan pembangunannya.

Capaian 75,41 ini menjadi modal besar bagi Andi Ina dan Abustan untuk menatap tahun-tahun berikutnya. Tantangannya kini bukan lagi sekadar menaikkan angka, melainkan memastikan status “Tinggi” tersebut benar-benar meresap hingga ke dapur-dapur warga di pelosok desa.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts