

Petta – Tren skincare dengan belasan langkah dan puluhan produk kini mulai ditinggalkan. Sebagai gantinya, banyak orang beralih ke pendekatan yang disebut skinimalism, yakni skincare minimalis yang fokus memulihkan skin barrier ketimbang menumpuk produk.
Istilah ini merupakan gabungan dari kata skin dan minimalism. Pada dasarnya, skinimalism mengajak penggunanya kembali pada prinsip less is more dalam merawat kulit.
Fenomena ini muncul sebagai respons atas tren skincare berlapis yang sempat populer beberapa tahun terakhir, termasuk rutinitas ala Korea Selatan dengan sepuluh tahapan. Sayangnya, semakin banyak orang menyadari bahwa penggunaan produk secara berlebihan justru berisiko merusak kulit.
Dermatolog sekaligus Founder dan Medical Director Yavana Skin & Hair Clinics, Madhuri Agarwal, menyebut pergeseran ini akan semakin terasa pada 2026. “Meja wastafel kamar mandi pada 2026 akan terlihat berbeda,” ujarnya, seperti dikutip dari Hindustan Times. Menurutnya, rutinitas sepuluh langkah yang selama ini dianggap ideal justru kerap mengganggu keseimbangan skin barrier, sehingga masyarakat kini beralih ke pendekatan yang lebih sederhana dan terarah.
Selain itu, kesadaran konsumen terhadap kandungan aktif juga ikut mendorong perubahan ini. Banyak orang mulai memahami bahwa mencampur terlalu banyak bahan aktif dalam satu waktu dapat memicu iritasi, bukan justru mempercepat hasil yang diinginkan.
Kualitas Dikedepankan daripada Kuantitas
Di sisi lain, tren ini juga mencerminkan perubahan cara pandang terhadap kecantikan itu sendiri. Fokusnya kini bergeser dari sekadar menutupi ketidaksempurnaan menuju perawatan yang lebih realistis dan berkelanjutan.
Chrisanti, salah satu praktisi kecantikan, menjelaskan bahwa filosofi ini tidak berarti mengabaikan perawatan diri. “Menjadi lebih mindful dalam beauty routine bukan berarti mengurangi perhatian terhadap perawatan diri,” katanya. Ia menambahkan, pemahaman terhadap kebutuhan kulit justru menjadi kunci utama sebelum memilih produk yang tepat digunakan sehari-hari.
Dengan demikian, konsumen kini lebih cermat dalam mempertimbangkan fungsi dan efektivitas sebuah produk. Faktor kepraktisan pun turut menjadi pertimbangan, mengingat gaya hidup yang serba cepat menuntut rutinitas yang tidak memakan banyak waktu.
Manfaat bagi Kesehatan Kulit
Dari sisi medis, sejumlah dermatolog turut menyambut baik tren ini. Dr. Purva Pande, seorang dermatolog, menyoroti manfaat utama dari pendekatan minimalis tersebut. “An important benefit of skinimalism is reducing the chances of irritation and product accumulation,” jelasnya.
Artinya, dengan mengurangi jumlah produk yang digunakan, risiko iritasi akibat penumpukan bahan pada permukaan kulit juga ikut menurun. Sebab, kulit sejatinya memiliki kapasitas penyerapan yang terbatas terhadap kandungan aktif.
Selain aspek kesehatan, skinimalism juga dinilai lebih ramah lingkungan karena mengurangi limbah kemasan. Dari segi ekonomi, pendekatan ini pun membantu konsumen menekan pengeluaran karena tidak perlu membeli banyak produk sekaligus.
Tiga Langkah Dasar yang Direkomendasikan
Meski menyederhanakan rutinitas, bukan berarti perawatan kulit menjadi asal-asalan. Para ahli tetap merekomendasikan tiga langkah dasar yang wajib dipenuhi setiap hari, yaitu:
- Pembersih wajah yang lembut dan sesuai jenis kulit.
- Pelembap untuk menjaga fungsi skin barrier tetap optimal.
- Tabir surya dengan SPF minimal 30 untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari.
Ketiga langkah tersebut dinilai cukup untuk menjaga kulit tetap sehat tanpa membebani dengan lapisan produk yang berlebihan. Namun, konsistensi tetap menjadi kunci utama agar manfaatnya benar-benar terasa dalam jangka panjang.
Meski begitu, skinimalism tidak selalu cocok untuk semua orang. Sebagian individu dengan kondisi kulit tertentu, seperti jerawat parah atau masalah pigmentasi, mungkin tetap memerlukan rutinitas yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, konsultasi dengan dokter kulit tetap disarankan sebelum menyesuaikan rutinitas skincare sesuai kebutuhan masing-masing.