Fenomena Langka: 6 Gunung Api RI Erupsi Bareng, Ada Apa Sebenarnya?

Gunung Sinabung menyemburkan abu dan asap tebal sebagaimana terlihat dari Karo, Provinsi Sumatra Utara, pada 2 September 2026. – (©AFP)

Petta – Fenomena kebencanaan geologi yang tergolong langka tengah menyita perhatian publik. Dalam waktu berdekatan, enam gunung api di berbagai wilayah Indonesia tercatat mengalami erupsi, bahkan sebagian di antaranya meletus nyaris bersamaan.

Keenam gunung tersebut adalah Sinabung di Sumatera Utara, Anak Krakatau di Selat Sunda, Semeru di Jawa Timur, Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, serta Ibu di Maluku Utara. Hingga Minggu (6/9/2026), sebagian besar dari gunung-gunung ini masih berstatus Siaga.

Meski terjadi dalam periode yang berdekatan, otoritas geologi memastikan tidak ada satu proses tunggal yang memicu seluruh letusan secara serentak. Setiap gunung disebut memiliki dinamika vulkaniknya masing-masing.

Kronologi Enam Titik Letusan

Rangkaian peristiwa ini bermula pada 31 Agustus 2026, ketika keenam gunung tercatat meletus dalam rentang waktu yang berdekatan. Sejak saat itu, aktivitas vulkanik terus berlanjut dengan intensitas berbeda di setiap lokasi.

Gunung Sinabung, misalnya, meletus pada pukul 10.17 WIB dengan kolom abu setinggi 3.500 meter di atas puncak. Akibatnya, statusnya dinaikkan dari Waspada menjadi Siaga, sementara ratusan warga Desa Kuta Tengah dan Payung terpaksa mengungsi.

Sementara itu, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Minggu dini hari. Letusan tersebut bahkan disertai fenomena air mancur lava serta dentuman yang terdengar hingga Bandung Raya. Menurut catatan Badan Geologi, gunung ini telah meletus sekitar 240 kali sejak Juli 2026.

Tidak ketinggalan, Semeru turut meletus pada Minggu (6/9/2026) pukul 07.51 WIB dengan kolom abu mencapai 1.000 meter. Petugas pos pengamatan setempat, Sigit Rian Alfian, melaporkan bahwa “kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal” mengarah ke timur.

Adapun Ili Lewotolok, Ibu, dan Lewotobi Laki-laki juga masih tercatat aktif dengan kolom abu berkisar 400 hingga 600 meter pada hari yang sama.

PVMBG Pastikan Tak Saling Memicu

Menanggapi fenomena ini, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati menegaskan bahwa erupsi keenam gunung tersebut murni dinamika vulkanik yang berdiri sendiri. Sebab, posisi Indonesia di Cincin Api Pasifik membuat negeri ini memiliki 127 gunung api aktif dengan sistem dapur magma masing-masing.

“Dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri,” ujar Rita, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (2/9/2026). Ia menambahkan bahwa proses menuju erupsi tiap gunung berbeda satu sama lain, sehingga tidak ditemukan bukti keterkaitan geologis di antara keenamnya.

Lebih lanjut, Rita juga meluruskan anggapan publik bahwa gempa tektonik otomatis memicu erupsi gunung api. Menurutnya, kaitan semacam itu baru bisa dipastikan apabila ada lonjakan data pemantauan internal, seperti kegempaan dalam, deformasi tubuh gunung, hingga perubahan suhu dan gas vulkanik.

Dampak ke Penerbangan hingga Permukiman

Di sisi lain, dampak erupsi mulai dirasakan luas oleh masyarakat, terutama di sektor transportasi udara. Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau bahkan sempat menutup sementara lima bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta pada dini hari Minggu (6/9/2026).

Selain itu, abu vulkanik dilaporkan menjangkau wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Meski begitu, hingga kini belum ada perintah evakuasi resmi bagi warga pesisir Selat Sunda, dan BMKG juga tidak mendeteksi anomali muka air laut dari 20 sensor pemantau tsunami.

Sementara itu, kebakaran hutan turut melanda kawasan Semeru sejak 26 Agustus 2026. Area seluas hampir 1.889 hektare di sekitar Ranukembang dan Ranu Kumbolo dilaporkan terbakar dan masih memerlukan penanganan intensif dari tim gabungan.

Status dan Imbauan Terkini

Berdasarkan pemantauan MAGMA Indonesia per Minggu (6/9/2026), berikut status kebencanaan keenam gunung tersebut:

  • Anak Krakatau: Level III Siaga, radius bahaya 3 kilometer dari kawah
  • Sinabung: Level III Siaga, radius 3-6 kilometer
  • Semeru: Level III Siaga, radius 5-13 kilometer di sektor tenggara
  • Lewotobi Laki-laki: Level III Siaga, radius 5 kilometer
  • Ili Lewotolok dan Ibu: aktif dengan letusan harian, dalam pemantauan intensif

Oleh karena itu, masyarakat maupun wisatawan diimbau untuk tidak beraktivitas di zona berbahaya yang telah ditetapkan di masing-masing gunung. Warga di wilayah terdampak abu vulkanik juga disarankan mengenakan masker agar terhindar dari gangguan pernapasan.

Pada akhirnya, publik diminta tetap tenang namun waspada. PVMBG mengingatkan agar masyarakat mengikuti informasi resmi melalui MAGMA Indonesia dan BPBD setempat, alih-alih memercayai kabar yang belum terverifikasi kebenarannya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts