Pengangguran Terdidik Masih Jadi Ganjalan di Makassar

Ilustrasi – Fenomena pengangguran terdidik. (AntaraFoto/Sulthony Hasanuddin)

MAKASSAR, Petta – Pengangguran Kota Makassar terus menurun dalam empat tahun terakhir. Namun, penurunannya berjalan pelan dan posisinya masih jauh di atas rata-rata Sulawesi Selatan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kota Makassar sebesar 9,60 persen pada 2025, turun 0,11 poin dari 9,71 persen setahun sebelumnya. Sebagai pembanding, TPT Sulawesi Selatan pada 2025 berada di 4,21 persen. Artinya, angka pengangguran di ibu kota provinsi ini lebih dari dua kali lipat angka provinsi.

Turun dari Puncak Pandemi

Tren ini terlihat jelas bila ditarik ke belakang. Pada 2020, TPT Makassar menyentuh 15,92 persen. Setelah itu, angkanya turun bertahap:

  • 2021: 13,18 persen
  • 2022: 11,82 persen
  • 2023: 10,60 persen
  • 2024: 9,71 persen
  • 2025: 9,60 persen

Capaian di bawah 10 persen sebenarnya sudah lama dipatok sebagai target. Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar, Nielma Palamba, pernah menyebut angka di bawah 10 persen sebagai tolok ukur yang stabil bagi kota ini. Meski begitu, selisih dengan rata-rata provinsi masih lebar.

Pengangguran Terdidik dan Soal Keterampilan

Struktur angkatan kerja ikut menjelaskan persoalannya. Pada 2024, tingkat partisipasi angkatan kerja Makassar mencapai 62,04 persen. Partisipasi laki-laki 77,44 persen, sedangkan perempuan 47,06 persen. Mayoritas angkatan kerja berpendidikan menengah (53,78 persen), disusul pendidikan tinggi (26,84 persen) dan pendidikan dasar (19,37 persen).

Kajian peneliti Universitas Negeri Makassar (UNM) yang terbit pada Agustus 2026 menyoroti kondisi itu. Menurut kajian tersebut, bursa kerja Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar sangat relevan untuk menjawab pengangguran terdidik. Namun, efektivitasnya terhambat ketidaksesuaian keterampilan, keterbatasan anggaran, lonjakan peserta, dan minimnya transparansi rekrutmen.

Seorang koordinator pusat karier universitas, berinisial BK, menggambarkan tekanan di lapangan. “Lonjakan peserta menjadi tantangan karena staf penyelenggara terbatas,” katanya dalam wawancara pada 3 Februari 2026.

Bursa Kerja dan Pelatihan Jadi Andalan

Pemerintah daerah terus menggelar program penyerapan tenaga kerja. Pada 16–18 Oktober 2026, Disnakertrans Sulsel menggelar Job Fair di Lapangan Hasanuddin, Makassar, dengan 27 perusahaan peserta dan lebih dari 1.000 lowongan. Kepala Disnakertrans Sulsel Jayadi Nas menyebut bursa kerja tahun ini juga membuka “lowongan kerja inklusif yang ramah bagi para penyandang disabilitas”.

Di jalur pelatihan, program nasional SMK Go Global menyiapkan lulusan SMK untuk bekerja di luar negeri. Pelatihan batch pertama berlangsung 26 Agustus–26 November 2026 di Politeknik ATI Makassar dan Fakultas Bahasa UNM. Jayadi menyebut program ini sebagai salah satu strategi menekan pengangguran terbuka, terutama lulusan SMK. “Mereka diberikan keterampilan dan kemampuan sebelum lulus dan diharapkan bisa mandiri,” ujarnya.

Di tingkat provinsi, gambarannya relatif membaik. Sakernas Mei 2026 mencatat TPT Sulsel sebesar 4,66 persen, turun 0,29 poin dibanding Februari 2026. Angka itu nyaris sama dengan TPT nasional pada Mei 2026, yakni 4,65 persen.

Ke depan, peneliti UNM merekomendasikan bursa kerja diintegrasikan dengan pelatihan keterampilan dan konseling karier. Mereka juga mendorong sistem data yang memantau penempatan kerja secara lebih rinci. Tanpa langkah itu, pengangguran Kota Makassar berisiko bertahan di level tinggi.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami