Jelang Muktamar ke-35, Empat Calon Ketum PBNU Ini Semakin Menguat

Logo Nahdlatul Ulama (NU). (©Wikipedia)

Petta – Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 kian menghangat menjelang Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026. Dari sekian nama yang beredar, empat sosok dinilai memiliki peluang paling kuat untuk melenggang dalam kontestasi tersebut, yakni KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Nasaruddin Umar, dan KH Zulfa Mustofa.

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengakui dinamika bursa pencalonan mulai terlihat, meski tahapan resmi pemilihan belum dimulai. Ia menegaskan peluang tetap terbuka bagi seluruh kader NU yang memiliki kapasitas. “Banyak sekali yang saya kira siap untuk menjadi ketua umum memiliki kriteria yang cukup,” katanya di Gedung KPK, Jakarta, awal Mei lalu.

Gus Yahya, Petahana dengan Basis Internal Kuat

Sebagai Ketua Umum PBNU saat ini, Gus Yahya dinilai diuntungkan oleh jaringan struktural yang telah dibangunnya sejak terpilih dalam Muktamar Lampung 2021. Ia masih disebut memiliki basis dukungan kuat di internal organisasi untuk melanjutkan kepemimpinan pada periode berikutnya, meski belum ada pernyataan resmi soal pencalonan kembali.

Cak Imin, Kekuatan Politik dari PKB

Nama Cak Imin masuk radar kandidat kuat karena rekam jejaknya sebagai tokoh politik nasional sekaligus Ketua Umum DPP PKB, partai yang secara historis lahir dari rahim NU. Posisinya sebagai Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat turut memperkuat sorotan publik terhadap peluangnya di bursa Ketum PBNU.

Nasaruddin Umar, Modal dari Jabatan Katib Aam

Menteri Agama Nasaruddin Umar disebut berpotensi besar maju lantaran pernah menjabat Katib Aam PBNU, posisi yang selama ini kerap menjadi jalur lahirnya pemimpin NU. Gus Ipul menyinggung pola tersebut saat merespons pertanyaan soal peluang Nasaruddin. “Gus Yahya dulu juga pernah jadi Katib Aam sebelumnya, Kiai Said kalau enggak salah sebelumnya juga pernah jadi Katib Aam,” ujarnya.

Zulfa Mustofa, Amunisi dari Kursi Pj Ketua Umum

Nama Zulfa Mustofa mencuat setelah rapat pleno Syuriyah PBNU di Hotel Sultan, Jakarta, pada Desember 2025 menetapkannya sebagai Penjabat (Pj) Ketua Umum menggantikan Gus Yahya hingga muktamar digelar. Posisi strategis itu dinilai memberi Zulfa modal pengaruh dalam dinamika menuju forum tertinggi NU tersebut.

Konsolidasi Jelang Muktamar

Menjelang muktamar, PBNU tengah menggelar rangkaian agenda konsolidasi, termasuk Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, Juni lalu. Hasil forum tersebut akan menjadi materi pembahasan dalam Muktamar ke-35 NU mendatang.

Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin berharap forum tersebut memperkuat konsolidasi organisasi. “Kami optimistis forum tersebut akan menjadi sarana konsolidasi organisasi menjelang Muktamar ke-35,” katanya.

Lokasi pelaksanaan muktamar sendiri masih dalam pembahasan. Sejumlah daerah seperti Nusa Tenggara Barat, Sumatera Barat, dan beberapa wilayah di Jawa Timur disebut mengajukan diri sebagai tuan rumah.

Nama-nama Lain yang Turut Diperhitungkan

Di luar empat nama besar tersebut, sejumlah figur lain juga disebut-sebut berpeluang meramaikan bursa, mulai dari KH Said Aqil Siroj, Gus Kikin, hingga tokoh muda NU Hery Haryanto Azumi atau Gus Hery. Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, KH Fahim Royani atau Gus Fahim, menyambut baik kesiapan Gus Hery maju dalam kontestasi. “Saya senang sekali mendengar Gus Hery siap ikut dalam kontestasi Ketua Umum PBNU,” ujarnya.

Para pengurus PBNU mengingatkan agar dinamika menuju muktamar tetap dijaga kondusif demi menjaga persatuan organisasi menjelang pemilihan nakhoda baru pada Agustus mendatang.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts