Beban Utang Rp15 Juta Bikin Iqbaal Ramadhan Nekat Jualan Gorengan di Makassar

Iqbaal Ramadhan sedang menjalankan aksi jual gorengan bertajuk “Operasi Pesta Copet Experience by Ijal”. (©Haeril Anwar)

Makassar, Petta – Di tengah himpitan debu lapangan, dentuman bass yang bikin dada bergetar, dan kepulan asap rokok kretek anak skena Makassar, ada satu pemandangan yang sekilas terasa salah tempat pada Sabtu sore lalu.

Seorang pemuda berkaos hijau lusuh dan celana jins robek di lutut tampak menjajakkan bungkusan putih berisi bakwan dan tahu goreng. Jika kamu hanya lewat sepintas sambil menahan lapar, kamu mungkin mengira dia cuma pedagang kaki lima yang beruntung bisa punya slot dagangan di festival sekelas “Latihan Pestapora”.

Tapi begitu kamu menatap wajah di balik topi hitamnya, kamu bakal sadar: itu Iqbaal Ramadhan, salah satu aktor muda segudang pengalaman yang dimiliki Indonesia.

Ia tidak dikawal bodyguard berbadan tegap atau mengenakan pakaian high-fashion. Iqbaal malah sibuk menawarkan gorengan sambil berusaha mendalami perannya.

“Paling enak nih, di Makassar, jualan gorengan sambil nonton konser, terima kasih Pak Ucup. Sabar.. Sabar.. atu-atu yaa” ucap Iqbal

Kapitalisme Budaya dan Resep “Gorengan” yang Dijual Imajinari

Gimik pemasaran bernama “Operasi Pesta Copet Experience by Ijal” ini adalah perpaduan antara method acting ekstrem dan aksi gerilya marketing yang lihai membaca psikologi Generasi Z.

Di film terbaru rumah produksi Imajinari, Operasi Pesta Copet, Iqbaal memainkan karakter Ijal. Karakter ini bukan pahlawan super; dia adalah potret nyata pemuda urban yang babak belur diisi realitas ekonomi Indonesia hari ini: kena PHK, terdesak utang sang ibu sebesar Rp15 juta, dan terpaksa melakoni pekerjaan apa saja. Mulai dari badut jalanan, jualan gorengan, hingga akhirnya tergiur membentuk komplotan copet spesialis festival musik.

Strategi Imajinari menaruh Iqbaal ke lapangan nyata membuktikan satu hal: baliho besar di perempatan jalan tol sudah mati bagi anak muda hari ini. Generasi yang haus akan konten authentic lebih mudah terhipnotis oleh situasi kontras melihat bintang film papan atas turun derajat jadi pedagang bakwan di tengah ajang Latihan Pestapora.

“Aksi Iqbaal ini dilakukan di sela-sela Latihan Pestapora di Makassar… Kehadiran Iqbaal langsung disambut antusias para pengunjung yang ramai menghampirinya untuk menyapa, berfoto, hingga membeli gorengan yang ia jual,” ungkap Panjul, salah satu penonton konser.

Garis Tipis Antara Panggung Festival dan Realita Jalanan

Sutradara Edy Khemod (yang sehari-hari menggebuk drum untuk band cadas Seringai) tampaknya paham betul bahwa festival musik di Indonesia bukan cuma soal tempat mendengarkan lagu, tapi arena bertahan hidup. Fenomena ponsel hilang di tengah kerumunan konser adalah trauma kolektif anak skena. Dengan menjadikan kerumunan Pestapora sebagai arena cerita sekaligus arena promosi film ini, menyentuh saraf paling peka dari kultur pop lokal.

Apakah gorengan yang dijajakan Iqbaal itu renyah? Atau jangan-jangan sudah dingin berdebu karena terpaan angin sore Makassar? Jujur saja, tidak ada yang peduli.

Di era di mana hiburan dan realita makin sulit dibedakan, melihat seorang Iqbaal Ramadhan sibuk kembalian uang pecahan lima ribuan di tengah festival musik adalah bentuk hiburan terbaik yang bisa kita dapatkan pekan ini.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts