Ribuan Migran Banjiri Ceuta dalam Semalam, Spanyol Kerahkan Militer

Para migran menyeberang dari Maroko menuju wilayah kantong Spanyol, Ceuta, pada hari Kamis, 30 Juli 2026. (©Antonio Sempere/AP)

Petta – Perbatasan Spanyol dengan Maroko kembali membara. Dalam waktu kurang dari dua hari, puluhan ribu migran menerobos masuk ke Ceuta, wilayah otonom Spanyol di pesisir utara Afrika.

Kementerian Dalam Negeri Spanyol memperkirakan sekitar 49.000 orang tiba hanya dalam satu hari, sementara Perdana Menteri Pedro Sanchez menyebut angka totalnya mencapai sekitar 60.000 migran dari Maroko ke wilayah Ceuta. Akibatnya, sedikitnya 57 orang meninggal dunia dalam insiden tersebut.

Perbatasan yang Tiba-tiba Lumpuh

Video yang beredar memperlihatkan ribuan orang berjalan mengitari pemecah ombak di kawasan Tarajal menuju Ceuta. Sebagian lainnya nekat berenang menggunakan ban pelampung dari sisi Maroko. Namun, tak sedikit pula yang menerobos pagar perbatasan lalu berlari masuk ke jalanan kota.

Ketua Asosiasi Perwira Garda Sipil Spanyol di Ceuta, Rachid Sbihi, menggambarkan situasi ini benar-benar di luar kendali. “Perbatasan benar-benar lumpuh,” ujarnya, seperti dikutip Kompas.id.

Selain itu, ketegangan serupa juga terjadi di Melilla. Bentrokan antara aparat keamanan Maroko dan imigran pun tak terhindarkan di sejumlah titik perbatasan.

Pemicu di Balik Lonjakan Migran

Lantas, apa yang memicu gelombang kedatangan sebesar ini? Pemerintah Spanyol menduga penyebabnya berkaitan dengan putusan Mahkamah Agung pada akhir Juni lalu.

Putusan tersebut menegaskan bahwa prosedur pemulangan singkat tidak dapat diterapkan pada migran yang dicegat saat mencoba mencapai Ceuta atau Melilla melalui laut, dan sebagai gantinya harus melalui proses imigrasi biasa. Alhasil, migran yang tertangkap di laut kini tidak bisa langsung dipulangkan ke Maroko.

PM Sanchez menuding jaringan penyelundup manusia sengaja menyalahartikan putusan Mahkamah Agung sehingga memicu lonjakan migran. Meski demikian, dugaan tersebut belum dibuktikan secara independen.

Ceuta dalam Kondisi Darurat

Presiden Ceuta, Juan Jesus Vivas, menyebut jumlah migran yang datang setara dengan sekitar 70 persen populasi kota. Ia pun mendesak pemerintah pusat menyatakan status darurat.

Namun, pemerintah pusat menolak permintaan tersebut. Sebagai gantinya, Spanyol mengirim ratusan personel tambahan sekaligus mengerahkan pasukan militer untuk membantu Guardia Civil.

Tak hanya aparat yang kewalahan. Warga setempat pun ikut merasakan dampaknya, sebab banyak toko memilih tutup dan sejumlah orang enggan keluar rumah karena khawatir.

Berimbas ke Hubungan Diplomatik

Krisis ini rupanya tidak berhenti di level lokal. Italia bahkan merespons dengan menangguhkan sementara pengaturan bebas perbatasan Schengen bersama Spanyol.

Sementara itu, hubungan Spanyol-Maroko turut memanas akibat dugaan bahwa otoritas Maroko tidak menahan, bahkan mungkin justru membiarkan gelombang migran menuju Ceuta. Padahal, sebelumnya, kedua negara dikenal erat bekerja sama menekan migrasi ilegal.

Kini, situasi di perbatasan berangsur mereda usai kedua negara memperketat pengamanan di kedua sisi. Meski begitu, akar persoalan berupa disparitas ekonomi dan aturan hukum yang berubah tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi Spanyol maupun Uni Eropa.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami