

Petta – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kini resmi berada di bawah satu pemegang saham pengendali. Robert Budi Hartono ditetapkan sebagai Pemegang Saham Pengendali Terakhir (PSPT) tunggal bank swasta terbesar di Indonesia itu.
Status tersebut diperoleh setelah sang kakak, Michael Bambang Hartono, tutup usia pada Maret 2026 lalu. Sebelumnya, kendali BCA dipegang bersama oleh dua bersaudara itu melalui PT Dwimuria Investama Andalan (DIA).
Perubahan ini pun telah tercatat resmi di mata regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat peralihan tersebut melalui Surat Nomor SR-21/PB.333/2026 tertanggal 29 Juli 2026, yang diterima BCA sehari setelahnya, pada 30 Juli 2026.
Kendali Beralih Usai Bambang Wafat
Corporate Secretary BCA, Rudy Budiardjo, menjelaskan bahwa perubahan struktur pengendalian terjadi murni akibat wafatnya Bambang Hartono. Sebab, Bambang sebelumnya tercatat sebagai salah satu pemegang saham DIA, perusahaan yang berperan sebagai pengendali BCA dengan porsi kepemilikan mencapai 54,942 persen.
Setelah Bambang berpulang, otomatis kendali penuh atas DIA beralih ke tangan Robert. Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), Rudy menegaskan status baru tersebut.
“Dengan demikian, Pemegang Saham Pengendali Terakhir Perseroan menjadi Bapak Robert Budi Hartono,” ujar Rudy dalam keterbukaan informasi yang dikutip Senin (3/8/2026).
Meski begitu, tidak ada perubahan pada komposisi saham Robert di DIA. Porsi kepemilikannya tetap sebesar 51 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh, sama seperti sebelumnya.
Tak Ganggu Operasional BCA
Manajemen BCA memastikan peralihan status pengendali ini murni bersifat administratif. Oleh karena itu, publik dan nasabah tak perlu khawatir soal kelangsungan layanan perbankan sehari-hari.
Rudy menekankan, perubahan tersebut tidak berdampak pada sisi hukum maupun kinerja keuangan perseroan. “Informasi atau fakta material yang diungkapkan tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi dan kinerja keuangan, atau kelangsungan usaha BBCA,” demikian pernyataan resmi perseroan.
Dengan status barunya ini, Robert kini menjadi sosok tunggal di balik kendali bank dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 776,63 triliun. Angka tersebut menegaskan posisi BCA sebagai bank swasta terbesar di Tanah Air.
Sosok di Balik Kerajaan Bisnis Hartono
Robert Budi Hartono, yang memiliki nama lahir Oei Hwie Tjhong, merupakan putra kedua pendiri Djarum, Oei Wie Gwan. Bersama sang kakak, ia membesarkan Djarum menjadi salah satu produsen rokok kretek terbesar di Indonesia sejak mengambil alih perusahaan pada 1963.
Selain di sektor perbankan dan tembakau, bisnis keluarga Hartono juga merambah ke industri elektronik lewat Polytron. Kini, sebagian besar kekayaan Robert bersumber dari investasinya di BCA.
Berdasarkan data Real Time Net Worth Forbes per 2 Agustus 2026, kekayaan bersih Robert tercatat mencapai 15,7 miliar dollar AS, setara sekitar Rp 282,4 triliun. Dengan pundi-pundi tersebut, ia menempati peringkat ke-184 orang terkaya di dunia versi daftar Forbes real-time.