

Makassar, Petta – Giat Jelajah Sampah tingkat Kecamatan Tamalanrea digelar di SMP Negeri 30 Makassar, Minggu (16/8/2026). Kegiatan ini sekaligus menjadi titik terakhir dari rangkaian program Jelajah Sampah yang telah berjalan sejak Juni 2026.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin hadir langsung didampingi Ketua Dewan Lingkungan Kota Makassar, Melinda Aksa. Jajaran Pemerintah Kecamatan Tamalanrea beserta warga setempat turut memeriahkan acara tersebut.
Sejak awal digagas, Jelajah Sampah memang tidak dirancang sebagai seremoni belaka. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar menjadikan program ini sebagai sarana edukasi sekaligus ajang kolaborasi lintas elemen masyarakat.
Diawali Aksi Pungut Sampah Bersama
Rangkaian kegiatan dibuka dengan aksi keliling memungut sampah di sekitar lokasi. Seluruh perangkat RT dan RW Kecamatan Tamalanrea turun tangan langsung bersama petugas kebersihan setempat.
Dari aksi bersih-bersih tersebut, tercatat belasan kilogram sampah berhasil dikumpulkan. Jumlah itu terdiri atas sampah organik, anorganik, limbah B3, hingga residu, yang kemudian menambah catatan total sampah dari seluruh rangkaian Jelajah Sampah di 14 kecamatan hingga mencapai sekitar 1,5 ton.
Wali Kota: Sampah Tanggung Jawab Bersama
Dalam sambutannya, Munafri Arifuddin menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Menurutnya, warga perlu terlibat aktif agar tata kelola sampah kota semakin membaik.
“Kita tidak ingin hanyut di persoalan sampah ini, kita ingin hadir untuk perbaikan-perbaikan di dalam tatanan sosial masyarakat, bahwa sampah ini adalah tanggung jawab kita yang harus kita kelola secara bersama-sama,” ujar Munafri.
Sementara itu, Camat Tamalanrea Andi Patiroi mengapresiasi antusiasme warganya menyambut pelaksanaan Jelajah Sampah di wilayahnya. Ia menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya kecamatan mendorong warga lebih tertib memilah dan mengelola sampah dari lingkungan masing-masing.
Edukasi Pengolahan Sampah dan Pameran Urban Farming
Selain aksi bersih-bersih, kegiatan juga menghadirkan berbagai edukasi pengolahan sampah organik. Sejumlah alat komposer dipamerkan sebagai contoh teknologi pengolahan sampah rumah tangga yang bisa langsung diterapkan warga.
Pengunjung juga dapat menyaksikan pameran hasil urban farming dari warga Tamalanrea. Beragam kelas praktik pun digelar untuk menambah keterampilan warga, di antaranya:
- Pembuatan eco enzyme dari sisa buah dan sayur
- Pembuatan biopori untuk resapan air sekaligus pengurai sampah organik
- Praktik pembuatan kompos dari sampah rumah tangga
- Pengenalan maggot atau larva black soldier fly beserta cara budi dayanya
Melalui kelas-kelas tersebut, warga diajak melihat langsung bahwa sampah organik sebenarnya bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai, alih-alih berakhir menumpuk di tempat pembuangan akhir.
Momentum Bangun Kesadaran Warga
Lewat Jelajah Sampah, Pemkot Makassar berharap warga semakin peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar. Kesadaran memilah sampah sejak dari sumber menjadi salah satu pesan utama yang terus digaungkan sepanjang program berlangsung.
Dengan berakhirnya rangkaian di Kecamatan Tamalanrea, program ini pun resmi menuntaskan kunjungan ke seluruh 14 kecamatan di Kota Makassar. Ke depan, semangat gotong royong dalam mengelola sampah diharapkan terus berlanjut hingga ke tingkat RT dan RW, demi mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.