Muktamar Ke-35 NU Resmi Dibuka, 8 Nama Ini Bersaing Rebut Kursi Ketum PBNU

Logo Nahdlatul Ulama (NU). (©Wikipedia)

Petta – Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi dimulai hari ini, Kamis (27/8/2026), di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini akan berlangsung selama lima hari, yakni 27–31 Agustus 2026.

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan membuka acara secara langsung di Lapangan Untung Suropati, Tambakberas. Semula agenda pembukaan disusun berlangsung malam hari, namun jadwal dimajukan menjadi pukul 15.00 WIB. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut hadir dalam seremoni tersebut.

Selain pembukaan simbolis, perhatian publik NU justru lebih banyak tertuju pada satu agenda krusial: pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) untuk masa khidmat 2026–2031. Bursa calon sudah menghangat sejak berbulan-bulan sebelum muktamar digelar.

Delapan Nama Ramai Diperbincangkan

Sedikitnya delapan tokoh disebut masuk bursa calon Ketua Umum PBNU. Nama-nama tersebut antara lain KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang merupakan petahana, KH Zulfa Mustofa, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), KH Nasaruddin Umar, KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), serta KH Imam Jazuli.

Ketua Bidang Hukum dan Media PBNU, Prof Moh Mukri, menilai ramainya nama yang muncul menjelang muktamar merupakan hal wajar dalam tradisi organisasi. Menurutnya, dinamika itu justru mencerminkan sehatnya proses demokrasi internal NU.

“Kalau kemudian agak-agak hangat, ada banyak yang ingin maju menjadi Ketua Umum, ya biasalah. Itu justru sekaligus penampakan adanya demokrasi, ada penyampaian aspirasi,” katanya, dikutip dari NU Online Lampung.

Namun begitu, ia menegaskan peta kekuatan calon belum benar-benar mengerucut pada satu figur. “Ya sekarang sih kalau ngomong mengerucut, belum ya,” ujarnya.

Dukungan Wilayah Mulai Bergerak

Meski peta besar masih dinamis, sejumlah kandidat sudah mulai mengumpulkan dukungan dari pengurus daerah. Gus Yusuf, misalnya, disebut telah mengantongi dukungan dari 23 Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Jawa Timur.

Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa turut menyoroti banyaknya nama baru yang muncul dari luar lingkaran kepengurusan pusat sebagai indikasi matangnya kaderisasi organisasi. “Banyaknya nama yang muncul menunjukkan bahwa kaderisasi di NU hidup. Banyak orang yang siap untuk berkhidmat di Nahdlatul Ulama,” ujarnya saat pembukaan Bahtsul Masail Pra-Muktamar Ke-35 NU di Depok, Jawa Barat.

Ia menambahkan, kemunculan tokoh dari unsur yang selama ini kurang akrab dengan struktur PBNU pun dianggap sebagai hal yang sah-sah saja dalam proses regenerasi kepemimpinan.

Kendati demikian, sejumlah pengamat politik menilai kontestasi kali ini berbeda dari muktamar-muktamar sebelumnya yang biasanya hanya mempertemukan dua poros besar. Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menyebut peta persaingan tahun ini belum mengkristal pada figur tertentu.

Mekanisme Pemilihan Menentukan Arah

Sesuai dengan tradisi NU, penetapan calon resmi Ketua Umum PBNU baru akan berlangsung melalui mekanisme dan tahapan khusus di dalam forum muktamar itu sendiri. Karena itu, nama-nama yang beredar di publik saat ini belum bisa dianggap sebagai daftar kandidat final.

Selain memilih Ketua Umum, muktamar juga akan menetapkan Rais Aam Syuriyah PBNU periode mendatang, sekaligus merumuskan sejumlah rekomendasi strategis organisasi. Prof Moh Mukri berharap seluruh rangkaian dapat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi jamiyah maupun bangsa Indonesia.

Dengan agenda padat selama lima hari ke depan, publik NU dan masyarakat luas kini menanti siapa sosok yang akan dipercaya memimpin organisasi berusia satu abad lebih ini untuk lima tahun mendatang.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami