
Bandung, Petta – Suara peluit panjang yang ditiup wasit di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Sabtu sore tidak sekadar menandai berakhirnya 90 menit laga kontra Persijap Jepara. Lebih dari itu, bunyi nyaring tersebut memicu ledakan emosi kolektif ribuan jiwa di tribun, mengesahkan sebuah dekrit baru di sepak bola modern Indonesia: Maung Bandung adalah penguasa mutlak tanpa tandingan.
Skor kacamata 0-0 melawan Persijap mungkin terasa antiklimaks bagi sebuah laga penentu. Namun, dalam kalkulasi kompetisi yang kejam, satu poin tersebut sudah lebih dari cukup untuk mengunci gelar juara Super League 2025/2026. Persib Bandung resmi menuntaskan misi yang belum pernah dicapai oleh klub mana pun di era modern tanah air—meraih gelar juara tiga musim berturut-turut (hattrick).
Taktis, Pragmatis, dan Mentalitas Baja
Musim ini akan dikenang sebagai salah satu pacuan kuda paling menegangkan dalam sejarah liga. Persib dan Borneo FC Samarinda finis dengan raihan poin yang sama persis: 79 poin dari 34 laga. Namun, regulasi head-to-head menjadi pemisah garis takdir. Kemenangan 3-1 di Bandung dan hasil imbang 1-1 di Samarinda menjadi bukti otentik mengapa trofi berlapis emas itu tetap bersemayam di Jawa Barat.
Di bawah asuhan Bojan Hodak, Persib berevolusi menjadi mesin kompetisi yang sangat pragmatis namun mematikan. Kehadiran Thom Haye sebagai konduktor di lini tengah, bertandem dengan ketangguhan duet lini belakang Federico Barba dan Júlio César, memberikan stabilitas yang jarang runtuh di bawah tekanan.
Meski digempur habis-habisan oleh ambisi Borneo FC hingga pekan pamungkas, armada Hodak tahu persis bagaimana cara mengelola tempo dan mengamankan hasil.
Suara dari Lapangan: “Kami Layak Menjadi Juara”
Keberhasilan mempertahankan takhta ini disambut dengan rasa bangga sekaligus kelegaan luar biasa oleh sang juru taktik. Dalam sesi konferensi pers pasca-pertandingan yang emosional, Bojan Hodak tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya terhadap determinasi anak asuhnya sepanjang musim yang melelahkan ini.
“Ini adalah musim yang luar biasa berat, tekanan dari segala penjuru sangat masif. Borneo FC bermain sangat luar biasa musim ini dan terus menempel kami hingga detik terakhir. Namun, karakter dan mentalitas anak-anak di atas lapangan hari ini membuktikan mengapa kami layak menjadi juara,”
Bojan Hodak, Pelatih Persib Bandung
“Tiga musim berturut-turut bukanlah sebuah kebetulan, ini adalah buah dari kerja keras, konsistensi, dan dedikasi semua orang di klub ini.” ujar Bojan Hodak kepada para awak media di ruang konferensi pers Stadion GBLA.
Menyematkan Bintang Kelima
Dengan trofi musim 2025/2026 ini, Persib resmi melewati pencapaian Persipura Jayapura sebagai klub tersukses di era modern dengan koleksi 5 gelar juara (1994/1995, 2014, 2023/2024, 2024/2025, dan 2025/2026). Jika ditarik lebih jauh ke belakang ke era amatir Perserikatan, ini adalah gelar nasional ke-10 bagi klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat tersebut.
Malam ini, jalanan Kota Bandung dipastikan tidak akan tidur. Konvoi kendaraan, kibaran bendera biru-hitam, dan nyanyian kejayaan akan menggema dari Dago hingga Asia Afrika. Persib tidak hanya memenangkan sebuah trofi; mereka telah menegaskan sebuah hegemoni, mendikte sejarah, dan menulis ulang batas kemampuan sebuah klub di sepak bola Indonesia.
Maung Bandung belum mau turun dari singgasananya.
