
Jakarta, Petta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons santai sekaligus menepis isu liar yang menyebut dirinya bakal mengundurkan diri dari kabinet pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kepastian ini disampaikan langsung oleh bendahara negara tersebut di sela-sela pemaparan kinerja APBN KiTa di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Sembari berkelakar dan tertawa bersama awak media, Purbaya menegaskan komitmennya untuk tetap fokus mengawal kebijakan fiskal nasional.
“Saya enggak tahu dari mana gosip itu mulai timbul. Saya tuh orangnya enggak suka mundur, saya sukanya maju. Nggak ada isu itu,” ujar Purbaya yang sempat memeragakan gerakan berjalan ke depan di hadapan wartawan.
Menurut Purbaya, desas-desus tersebut sengaja diembuskan melalui dokumen fisik berupa “kertas putih” yang beredar di kalangan tertentu. Ia mengakui isi dokumen tersebut mencampurkan beberapa fakta rapat internal bersama Presiden guna memicu sentimen negatif di pasar keuangan nasional.
Ia menyayangkan rumor politik semacam ini justru lebih memikat atensi publik dibandingkan capaian indikator makroekonomi dalam negeri yang mencatatkan tren positif.
Kritik Media dan Sentimen Makro yang Positif
Dalam kesempatan yang sama, Menkeu Purbaya menyentil fokus pemberitaan media yang dinilainya luput dalam menangkap sinyal pertumbuhan ekonomi. Padahal, penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh pemerintah terbukti efektif mendongkrak laju penyaluran kredit di perbankan pelat merah (BUMN) per Mei 2026.
“Kenapa nggak nulis itu? Nggak menarik ya? Yang menarik nulis Menteri Keuangan mau mundur katanya ha ha ha ha,” seloroh Purbaya.
Ia menambahkan, data pertumbuhan fungsi intermediasi perbankan milik negara tersebut merupakan bukti nyata bergeliatnya sektor riil dan kokohnya stabilitas ekonomi domestik saat ini.
Kementerian Keuangan mencatat, realisasi pertumbuhan kredit perbankan BUMN per Mei 2026 menunjukkan performa yang solid, antara lain:
- Bank Tabungan Negara (BTN): Tumbuh signifikan hingga 15 persen yang ditopang sektor perumahan.
- Bank Rakyat Indonesia (BRI): Tumbuh 13,8 persen, didorong penyaluran kredit pada sektor UMKM.
- Bank Syariah Indonesia (BSI): Mencatatkan pertumbuhan di atas 10 persen.
Istana Pastikan Kondisi Kabinet Solid
Dihubungi secara terpisah, pihak Istana Kepresidenan melalui Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi melayangkan bantahan serupa. Dirinya memastikan bahwa kabar perombakan kabinet atau mundurnya Menkeu Purbaya adalah informasi yang tidak berdasar.
Prasetyo menekankan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah memperkuat sinergi tim ekonomi untuk memitigasi volatilitas pasar keuangan global dan menjaga nilai tukar rupiah agar tetap stabil.
Berdasarkan laporan APBN KiTa per Mei 2026, kondisi fundamental fiskal RI diklaim dalam posisi aman. Defisit anggaran tercatat hanya sebesar 0,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp 180 triliun, jauh di bawah ambang batas undang-undang sebesar 3 persen.
Sementara itu, realisasi belanja negara meroket 34,4 persen (yoy) mencapai Rp 1.365,4 triliun demi mendanai program-program prioritas nasional. Pemerintah pun tetap optimistis target pertumbuhan ekonomi tahun ini dapat menyentuh angka 5,4 persen, menyusul performa Kuartal I yang sukses tumbuh 5,61 persen.
Kementerian Keuangan mengimbau kepada pelaku pasar dan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh spekulasi yang sengaja digulirkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab demi memanfaatkan momentum dinamika pasar harian.
