
Petta – Gegap gempita Piala Dunia 2026 membuat jadwal tidur banyak orang berantakan. Perbedaan zona waktu membuat sebagian pertandingan disiarkan tengah malam hingga dini hari waktu Indonesia, memaksa para penggemar memilih antara tidur nyenyak atau menyaksikan tim favorit berlaga.
Masalahnya, nonton bareng (nobar) jarang berjalan tanpa camilan. Kombinasi begadang dan ngemil larut malam inilah yang kini disorot sejumlah kalangan karena berpotensi memengaruhi kesehatan, mulai dari pola makan hingga risiko penyakit jantung.
Kurang Tidur Bikin Tubuh “Salah Kaprah” soal Rasa Lapar
Secara ilmiah, keinginan ngemil saat begadang bukan sekadar soal kebiasaan. Penelitian di bidang endokrinologi menunjukkan, kurang tidur memicu ketidakseimbangan dua hormon pengatur nafsu makan, yakni ghrelin dan leptin. Saat waktu tidur terpotong, kadar ghrelin atau hormon pemicu lapar meningkat, sementara leptin atau hormon penanda kenyang justru menurun.
Kondisi itu membuat otak menerima sinyal lapar yang sebenarnya keliru, sehingga dorongan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori, gula, dan lemak menjadi lebih sulit dikendalikan. Sejumlah tinjauan penelitian bahkan mencatat, orang yang kurang tidur bisa mengonsumsi tambahan ratusan kalori per hari dibanding saat tidurnya cukup, dengan porsi camilan malam yang lebih banyak dari biasanya.

Risiko di Balik Begadang Semalaman
Dokter Raissa, sebagaimana dilansir Antara, Selasa (23/6/2026), mengingatkan bahwa begadang sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan rutin. Ia menyebut kebiasaan ini dapat “meningkatkan risiko gangguan konsentrasi, penurunan daya tahan tubuh, perubahan nafsu makan.”
Jika berlangsung hampir tiap malam sepanjang turnamen yang digelar sebulan penuh, dampaknya bisa merembet lebih jauh. Kurang tidur kronis dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi, gangguan metabolisme, penurunan fungsi kognitif, hingga fenomena microsleep atau tertidur singkat tanpa disadari yang berbahaya bila terjadi saat berkendara di pagi hari. Beberapa ulasan kesehatan bahkan menyebut, konsistensi tidur di bawah tujuh jam per malam dapat meningkatkan risiko hipertensi kronis hingga 1,6 kali lipat.
Tak Melulu Buruk, Asal Seimbang
Di sisi lain, menonton sepak bola sebenarnya bisa memberi manfaat psikologis. Ketua Program Studi S2 Biomedis Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. dr. Sinu Andhi Jusup, menjelaskan bahwa aktivitas yang disukai dapat memicu produksi hormon kebahagiaan. Menurutnya, “tubuh dapat memproduksi hormon endorfin yang menimbulkan perasaan senang dan nyaman” saat seseorang melakukan hobi yang digemari, termasuk menyaksikan tim andalan bertanding.
Artinya, nobar bukan aktivitas yang harus dihindari sama sekali. Kuncinya ada pada keseimbangan, terutama dalam mengatur waktu tidur dan jenis camilan yang dikonsumsi selama sebulan penuh turnamen berlangsung.
Piala Dunia memang datang sekali dalam empat tahun, tetapi kesehatan tetap jadi taruhan jangka panjang. Tanpa strategi yang tepat, kebiasaan begadang dan ngemil larut malam berisiko meninggalkan “utang kesehatan” yang baru terasa setelah turnamen usai.