Fenomena “Doom Spending”: Mengapa Anak Muda Tetap Belanja Konsumtif di Tengah Ketidakpastian Ekonomi?

Ilustrasi remaja yang sedang terbelenggu perilaku Doom spending. (©Magnific)

Petta – Tekanan ekonomi global, bayang-bayang inflasi, hingga mahalnya harga hunian tak Lantas membuat generasi muda menahan diri dalam berbelanja. Sebaliknya, fenomena yang dikenal dengan istilah doom spending kini marak melanda kalangan milenial dan Generasi Z (Gen Z).

Istilah ini merujuk pada perilaku belanja secara impulsif sebagai mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) untuk meredakan kecemasan akibat ketidakpastian masa depan.

Perencana keuangan dari Zap Finance, Prita Hapsari Ghozie, menjelaskan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan kondisi psikologis seseorang yang merasa tidak berdaya terhadap keadaan finansial jangka panjang. Menurutnya, anak muda cenderung mencari kebahagiaan instan karena menganggap tujuan finansial besar semakin sulit dijangkau.

“Ketika seseorang merasa impian besar seperti membeli rumah atau mencapai kebebasan finansial terasa makin jauh, mereka cenderung mengalihkan uangnya untuk hal-hal yang memberikan kepuasan instan saat ini,” ujar Prita kepada Kompas.com, Kamis (1/10/2026).

Kepuasan Instan di Tengah Bayang-bayang Masa Depan

Perilaku doom spending umumnya diwujudkan melalui pembelian barang-barang yang tergolong fast moving atau pengalaman rekreasi. Mulai dari kebiasaan membeli kopi kekinian saban hari, menonton konser musik, berburu barang fashion, hingga berlibur singkat ke luar kota.

Psikolog klinis, Ratih Ibrahim, menilai ada dorongan emosional yang kuat di balik perilaku konsumtif ini. Ia menyebutkan bahwa stres berkepanjangan akibat paparan berita buruk tentang ekonomi dan pekerjaan di media sosial turut memicu kebiasaan tersebut.

“Belanja memberikan dorongan dopamin sementara yang membuat seseorang merasa memiliki kendali atas hidupnya, meskipun itu hanya berlangsung sebentar,” kata Ratih saat dihubungi terpisah.

Dampak Buruk bagi Kesehatan Finansial

Meski memberikan rasa nyaman sesaat, kebiasaan ini menyimpan risiko besar jika dibiarkan tanpa kendali. Berikut adalah beberapa dampak nyata yang mengintai pelaku doom spending:

  • Tabungan Darurat Terkuras: Dana yang seharusnya dialokasikan untuk simpanan masa depan habis dipakai memenuhi gaya hidup harian.
  • Jeratan Utang Konsumtif: Penggunaan fitur paylater dan kartu kredit yang tidak bijak dapat menumpuk utang berbunga tinggi.
  • Ketidakstabilan Finansial Jangka Panjang: Kebiasaan ini menghambat seseorang untuk memulai investasi dan mencapai kemandirian finansial.

Prita mengingatkan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) dalam mengelola keuangan harian. Ia menyarankan agar generasi muda mulai memisahkan antara kebutuhan utama, keinginan pribadi, dan alokasi simpanan secara disiplin.

“Boleh saja menikmati hasil kerja keras untuk self-reward, tetapi jumlahnya harus dibatasi secara ketat. Jangan sampai kebahagiaan hari ini justru mengorbankan keamanan finansial di masa depan,” pungkas Prita.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami