

Petta – Harga Bitcoin bertahan di atas level psikologis 64.000 dollar AS menjelang pengumuman suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Juli 2026. Mata uang kripto terbesar di dunia itu bahkan sempat menyentuh level 65.703 dollar AS pada pekan lalu, sebelum sedikit terkoreksi mengikuti pergerakan pasar yang penuh kehati-hatian.
Penguatan ini terjadi setelah Bitcoin sempat anjlok ke level terendah dalam 21 bulan terakhir di kisaran 57.749 dollar AS pada akhir Juni 2026, akibat derasnya arus keluar dana dari produk exchange traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat. Sepanjang Juni 2026, ETF Bitcoin mencatat arus keluar bersih sekitar 4,5 miliar dollar AS, angka terburuk sejak produk tersebut pertama kali diluncurkan.
Dana Institusional Mulai Kembali Masuk
Meski sempat tertekan, sinyal pemulihan mulai terlihat dari sisi permintaan institusional. Beberapa produk ETF Bitoin mencatatkan aliran dana masuk positif dalam beberapa hari perdagangan terakhir, dengan salah satu produk bahkan menerima inflow hingga 139 juta dollar AS dalam sehari.
Menariknya, data on-chain justru menunjukkan tren berbeda dari pergerakan di pasar ETF. Entitas whale atau investor bermodal besar tercatat mengakumulasi lebih dari 270.000 BTC dalam 30 hari terakhir, sementara cadangan Bitcoin di bursa terpusat menyusut ke level terendah dalam tujuh tahun terakhir. Kondisi ini oleh sejumlah analis dibaca sebagai tanda bahwa investor besar memanfaatkan momen pelemahan harga untuk menambah kepemilikan.
Analis kripto sekaligus salah satu pendiri XYO, Markus Levin, menilai investor kini lebih selektif dalam menyikapi sinyal ekonomi makro. Menurutnya, penurunan inflasi memang meredakan tekanan pada aset berisiko, namun “pelaku pasar tidak lagi berasumsi” setiap data positif otomatis memicu pemangkasan suku bunga.
Pasar Menanti Sikap The Fed di Bawah Kevin Warsh
Perhatian pasar kini tertuju pada langkah Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang akan memimpin rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) untuk kedua kalinya sejak menjabat. Pada rapat sebelumnya di bulan Juni, The Fed memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen melalui suara bulat 12-0, namun tanpa memberikan sinyal jelas soal arah kebijakan ke depan.
Data pasar berjangka memperkirakan probabilitas The Fed kembali menahan suku bunga pada pertemuan 29 Juli berada di kisaran 75-80 persen. Meski demikian, ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi belakangan ini turut mendorong naiknya peluang kenaikan suku bunga, sehingga menciptakan ketidakpastian yang lebih tinggi bagi pergerakan aset berisiko seperti Bitcoin.
Di pasar derivatif, sejumlah trader besar tampak optimistis. Aktivitas opsi senilai sekitar 44,8 triliun rupiah mengindikasikan ekspektasi harga Bitcoin dapat menembus 72.000 dollar AS usai keputusan Fed diumumkan. Sementara dari sisi teknikal, level support utama saat ini berada di kisaran 61.300, 60.000, dan 58.300 dollar AS, dengan level 60.000 dollar AS menjadi yang paling banyak dipantau pelaku pasar sebagai batas psikologis penting.
Skenario yang paling dikhawatirkan pelaku pasar bukanlah keputusan menahan suku bunga, melainkan potensi kejutan hawkish dari The Fed yang berpotensi memicu keluarnya modal lebih jauh dari aset kripto.