
Barru, Petta – Menurunkan angka kemiskinan di sebuah daerah bukanlah perkara membalikkan telapak tangan. Diperlukan orkestrasi kebijakan yang tepat sasaran, mulai dari sektor pangan hingga lapangan kerja. Di Kabupaten Barru, strategi tersebut mulai membuahkan hasil nyata dalam satu tahun kepemimpinan Bupati Andi Ina Kartika Sari dan Wakil Bupati Abustan.
Berdasarkan data terbaru, angka kemiskinan di Kabupaten Barru menunjukkan tren penurunan yang positif, yakni dari 8,31 persen pada tahun 2024 menjadi 8,00 persen pada Semester I 2025.
Kombinasi Lapangan Kerja dan Jaring Pengaman
Penurunan angka kemiskinan sebesar 0,31 persen dalam waktu singkat ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada dua faktor besar yang menjadi pendorong utamanya: penyerapan tenaga kerja massal dan stabilitas sektor produktif.
Pemerintah Kabupaten Barru tercatat melakukan langkah progresif dengan merekrut sekitar 2.000 pegawai PPPK. Kebijakan ini secara langsung mengangkat derajat ekonomi ribuan keluarga yang sebelumnya berada di zona ketidakpastian penghasilan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap kebijakan memiliki dampak langsung ke dapur masyarakat. Penurunan angka pengangguran dari 6,42 persen ke 5,07 persen adalah katup penyelamat yang menjaga daya beli warga,” ungkap Andi Ina dalam sebuah kesempatan.
Ketahanan Pangan sebagai Benteng Ekonomi
Selain lapangan kerja, sektor pertanian dan perikanan menjadi tulang punggung yang menjaga warga Barru tetap berdaya. Di tengah tantangan ekonomi global, produksi padi di Barru justru melonjak signifikan hingga 21,81 persen, mencapai 139.484 ton GKG.
Keberhasilan ini didorong oleh akselerasi Luas Tambah Tanam (LTT) yang mencapai 36.084 hektare, jauh melampaui target nasional. Dengan melimpahnya hasil panen, para petani memiliki ketahanan pangan yang lebih kuat dan surplus ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya.
Di sisi lain, sektor perikanan juga mencatatkan hasil yang melampaui target, yakni sebesar 27.410,47 ton, yang memperkuat posisi ekonomi masyarakat pesisir melalui program Kampung Nelayan Merah Putih.
Strategi ‘Jemput Bola’ dan Dana Pusat
Keberhasilan menekan angka kemiskinan ini juga didukung oleh kapasitas fiskal daerah yang sehat. Dengan strategi “jemput bola”, duet Andi Ina-Abustan berhasil menarik dana transfer pusat sebesar Rp700 miliar.
Dana ini dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur jalan (Dana Inpres) serta program pendidikan “Sekolah Rakyat”. Infrastruktur jalan yang baik di desa-desa secara otomatis memangkas biaya logistik hasil bumi petani, sehingga keuntungan yang diterima masyarakat menjadi lebih besar.
Menjaga Tren Positif
Meski angka 8 persen adalah sebuah pencapaian yang menggembirakan, pemerintah daerah menyadari bahwa tantangan ke depan tetap besar. Fokus pada penguatan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Merah Putih di 55 desa dan kelurahan diharapkan menjadi mesin baru yang menjaga agar angka kemiskinan terus melandai.
Capaian satu tahun ini menjadi fondasi penting bagi Barru untuk membuktikan bahwa dengan tata kelola yang transparan dan berintegritas seperti tercermin dalam skor SPI KPK yang mencapai 76 persen kesejahteraan masyarakat bukan lagi sekadar janji politik, melainkan realitas yang tengah diupayakan.
