

Petta – Perebutan kursi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memasuki babak baru. Uganda resmi mengajukan Olara Otunnu sebagai kandidat pada Sabtu (25/7/2026), menjadikannya kandidat ketujuh yang bersaing menggantikan Antonio Guterres.
Guterres, politisi asal Portugal yang telah memimpin PBB selama dua periode, dijadwalkan mengakhiri masa jabatannya pada 31 Desember 2026. Sosok yang terpilih nantinya akan mulai bertugas sebagai nakhoda baru PBB per 1 Januari 2027, untuk masa jabatan lima tahun ke depan.
Tujuh Kandidat yang Bersaing
Sebelum pencalonan Otunnu, enam kandidat lain telah lebih dulu memperkenalkan diri dan bahkan mengikuti debat yang disiarkan televisi pada Kamis (23/7/2026). Berikut daftar lengkap tujuh kandidat yang kini bersaing:
- Michelle Bachelet (Chile) – mantan Presiden Chile dua periode dan mantan kepala UN Women.
- Maria Fernanda Espinosa (Ekuador) – mantan Menteri Luar Negeri Ekuador dan mantan Presiden Majelis Umum PBB 2018-2019.
- Rafael Grossi (Argentina) – Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang dikenal berpengalaman menangani krisis nuklir di Ukraina dan Iran.
- Rebeca Grynspan (Kosta Rika) – Sekretaris Jenderal UN Trade and Development yang mengambil cuti untuk mencalonkan diri.
- Carolyn Rodrigues-Birkett (Guyana) – mantan Menteri Luar Negeri Guyana.
- Macky Sall (Senegal) – mantan Perdana Menteri dan Presiden Senegal, dicalonkan oleh Burundi.
- Olara Otunnu (Uganda) – kandidat terbaru, pernah menjabat Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Perwakilan Khusus untuk Anak-anak dan Konflik Bersenjata pada era Kofi Annan.
Otunnu, yang kini berusia 75 tahun, juga pernah menjadi utusan Uganda untuk PBB dan sempat maju sebagai calon presiden dari partai oposisi Uganda People’s Congress pada 2011, namun kalah dari Yoweri Museveni.
Menariknya, mengikuti tradisi rotasi kawasan di PBB, kandidat dari Amerika Latin dinilai lebih diunggulkan untuk periode kepemimpinan kali ini.
Mekanisme Pemilihan dan Jadwal Krusial
Proses menuju kursi Sekjen PBB tidak sederhana. Presiden Dewan Keamanan PBB untuk Juli 2026 sekaligus Perwakilan Tetap Republik Demokratik Kongo, Zenon Ngay Mukongo, menjelaskan bahwa dialog informal dengan para kandidat telah digelar sejak awal Juli. Ia menyebut dialog itu digelar bersama mantan Presiden Senegal Macky Sall, Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi, serta mantan Menteri Luar Negeri Guyana Carolyn Rodrigues-Birkett.
Tahap berikutnya akan berlangsung pada 30 Juli 2026, ketika 15 anggota Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar pemungutan suara tertutup pertama atau straw poll untuk mengukur tingkat dukungan terhadap masing-masing kandidat. Pemungutan suara ini bersifat anonim dan bisa berlanjut ke beberapa putaran hingga muncul kandidat yang memenuhi syarat.
Untuk lolos, seorang kandidat membutuhkan minimal sembilan suara dan tidak boleh terkena veto dari lima anggota tetap Dewan Keamanan, yakni Amerika Serikat, Inggris, China, Prancis, dan Rusia. Nama yang terpilih kemudian akan diajukan ke Majelis Umum PBB untuk ditetapkan secara resmi.
Di tengah proses ini, nama di luar daftar resmi kandidat sempat mencuat setelah beredar kabar Presiden AS Donald Trump mendorong Presiden FIFA Gianni Infantino untuk maju sebagai Sekjen PBB, meski hal tersebut belum menjadi pencalonan formal.
Dengan situasi global yang diwarnai berbagai konflik dan krisis anggaran PBB, siapa pun yang terpilih akan menghadapi tantangan besar sejak hari pertama menjabat.