Iran-Oman Sepakati Rute Selat Hormuz, Bagaimana Dampaknya ke Dunia?

Sejumlah kapal terlihat berlabuh di Selat Hormuz, di lepas pantai kota pelabuhan Khasab di Semenanjung Musandam, Oman bagian utara, pada bulan Mei. (©AFP/Getty Images)

Petta – Iran dan Oman resmi mencapai kesepakatan mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz, jalur laut tersempit namun paling strategis bagi perdagangan energi dunia. Kabar ini muncul di tengah harapan meredanya ketegangan pascakonflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengungkapkan, koordinat geografis rute yang dirancang kedua negara telah rampung disepakati. Menurutnya, pernyataan bersama antara Teheran dan Muscat kini memasuki tahap akhir penyusunan.

“Koordinat geografis rute yang direncanakan oleh kedua belah pihak telah disepakati. Jika tidak ada pihak ketiga tertentu yang menghambat proses ini, pernyataan bersama kedua negara yang memuat pertimbangan utama dan poin-poin kesepakatan juga sedang dalam tahap peninjauan dan penyusunan akhir,” kata Baqaei, dikutip dari IRNA, Rabu (5/8/2026).

Selanjutnya, Baqaei menjelaskan bahwa Teheran dan Muscat telah menjalin dialog intensif selama dua bulan terakhir. Sepanjang proses itu, otoritas Iran meninjau usulan tersebut dari berbagai aspek, mulai dari teknis, hukum, keamanan, hingga dampak lingkungan.

Rute Terbagi Dua, Tarif Masih Dibahas

Kesepakatan ini muncul setelah Iran mengambil kendali de facto atas Selat Hormuz, sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Akibat situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyebut Teheran ingin membuka kembali jalur itu, meski Iran membantahnya.

Dosen Keamanan Internasional di King’s College London, Rob Geist Pinfold, menjelaskan bahwa rancangan kesepakatan ini membagi rute pelayaran menjadi dua jalur utama. Satu jalur melintasi pesisir Oman dan Uni Emirat Arab (UEA), sementara jalur lainnya berada di sepanjang pesisir Iran.

Sayangnya, pembahasan soal tarif kapal yang melintas belum menemui titik temu. Sebab, usulan dari Iran, Oman, dan AS masih berbeda satu sama lain. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi pun menyebut rute baru ini hanya akan berlaku sementara, yakni sekitar dua hingga empat bulan ke depan.

Keamanan Belum Sepenuhnya Terjamin

Meski begitu, Baqaei menegaskan bahwa kesepahaman bilateral antara Iran dan Oman saja tidak cukup untuk menjamin keamanan pelayaran di selat tersebut. Ia beralasan, dinamika keamanan kawasan masih sangat dipengaruhi oleh blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

“Faktor-faktor yang menyebabkan Selat Hormuz tidak aman dari pihak Amerika Serikat masih tetap ada, khususnya blokade angkatan laut serta tindakan agresif dan ancaman lainnya terhadap Iran dan kepentingannya,” ujar Baqaei.

Pernyataan itu pun terbukti tidak berlebihan. Pada hari yang sama, badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan nakhoda sebuah kapal tanker minyak mendengar dua ledakan ketika melintasi Selat Hormuz.

Bagaimana Reaksi Pasar Minyak Dunia?

Di sisi lain, kabar kesepakatan ini langsung direspons pasar energi global. Harga minyak dunia tercatat melemah setelah kesepakatan diumumkan. Minyak mentah WTI diperdagangkan di kisaran 75 dollar AS per barel, setelah sebelumnya anjlok hingga 11 persen dalam tiga sesi perdagangan beruntun.

Adapun harga minyak Brent, yang menjadi acuan global, ditutup di atas 79 dollar AS per barel pada Rabu (5/8/2026). Pelemahan ini terjadi seiring pelaku pasar mulai memperhitungkan potensi pulihnya sebagian aliran energi dari Timur Tengah.

Kendati demikian, analis senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengingatkan agar pasar tetap berhati-hati. Pasalnya, kesepakatan semacam ini punya rekam jejak yang kurang meyakinkan.

“Kesepakatan ini tampak rapuh seperti kesepakatan-kesepakatan sebelumnya, dan kita tahu sebagian besar tidak bertahan lama,” ujar Flynn.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Nota kesepahaman serupa yang ditandatangani AS dan Iran pada 17 Juni 2026 juga gagal bertahan lama, setelah pertempuran kembali pecah di sekitar jalur pelayaran tersebut.

Mengapa Selat Hormuz Begitu Penting?

Selat Hormuz merupakan satu-satunya jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia dengan lautan lepas. Lebih dari 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi jalur sempit ini setiap harinya.

Oleh karena itu, setiap gangguan maupun pemulihan arus lalu lintas di selat tersebut selalu berdampak langsung pada harga energi global. Bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, perkembangan di Hormuz menjadi salah satu indikator yang terus dipantau dalam menentukan arah harga bahan bakar minyak (BBM) ke depan.

Sejauh ini, baik Iran maupun Oman belum mengumumkan tanggal pasti penerbitan pernyataan bersama mereka. Dunia internasional pun masih menanti apakah kesepakatan kali ini akan bertahan lebih lama dibandingkan upaya-upaya sebelumnya.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami