
Yuncheng, Petta – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah China dalam beberapa pekan terakhir mendorong warga di Kota Yuncheng, Provinsi Shanxi, mencari cara tak biasa untuk bertahan dari suhu udara yang menyengat.
Alih-alih hanya mengandalkan pendingin ruangan, salah satu kompleks apartemen bertingkat di kota tersebut kini dilengkapi sistem pengabutan atau misting system di bagian atap gedung. Sistem ini menyemburkan kabut air berbutir sangat halus ke udara, sehingga tampak seperti hujan yang turun dari puncak bangunan.
Video yang memperlihatkan fenomena ini viral di berbagai platform media sosial, menampilkan kabut tebal yang mengalir turun dari atap gedung dan menyejukkan jalan serta area pejalan kaki di bawahnya.
Bekerja dengan Prinsip Evaporative Cooling
Secara teknis, sistem ini menggunakan prinsip evaporative cooling, di mana nozzle bertekanan tinggi melepaskan tetesan air yang sangat halus ke udara. Ketika tetesan air tersebut menguap, panas di udara sekitar akan terserap, sehingga suhu di area itu ikut turun, mirip dengan cara keringat mendinginkan tubuh manusia.
Karena ukuran tetesannya sangat kecil, air tersebut menguap dengan cepat dan tidak sampai membasahi jalan maupun warga yang melintas di bawahnya.
Berdasarkan laporan media China, sistem ini mampu menurunkan suhu udara dan permukaan lokal antara 5 hingga 8 derajat Celsius dalam hitungan menit saat gelombang panas mencapai 38 derajat Celsius. Sejumlah laporan lain menyebut penurunan suhu berkisar 3 hingga 6 derajat Celsius, tergantung kondisi kelembapan, angin, dan suhu udara saat itu.
Sistem ini juga dirancang bekerja secara otomatis. Sensor suhu dan kelembapan akan mengaktifkan sistem saat suhu luar ruangan melewati sekitar 35 derajat Celsius, dan mematikannya secara otomatis begitu suhu turun atau hujan alami mulai turun.

Lebih Hemat Energi, tapi Disorot Soal Air
Salah satu daya tarik utama teknologi ini adalah efisiensinya. Dibandingkan pendingin udara konvensional, sistem pengabutan atap disebut jauh lebih hemat listrik karena hanya mengandalkan air, pompa, dan nozzle bertekanan tinggi.
Meski begitu, tidak semua pihak menyambutnya dengan tepuk tangan. Sejumlah pengamat lingkungan dan insinyur mengingatkan potensi dampak konsumsi air di wilayah yang rawan kekurangan pasokan air bersih. Di sisi lain, pendukung teknologi ini berargumen bahwa penggunaan air sebenarnya jauh lebih sedikit dari perkiraan banyak orang, karena kabut yang disemprotkan menguap hampir seketika.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, turut menyoroti proyek ini sebagai salah satu contoh upaya pemerintah meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Bagian dari Adaptasi Kota Hadapi Perubahan Iklim
China dalam beberapa tahun terakhir menghadapi gelombang panas yang datang lebih sering dan berlangsung lebih lama, sebuah tren yang oleh para ilmuwan dikaitkan dengan perubahan iklim. Kondisi ini diperparah oleh efek pulau panas perkotaan atau urban heat island, di mana beton, aspal, dan infrastruktur bangunan menyerap serta menyimpan panas, membuat suhu di kawasan kota jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya.
Fenomena di Yuncheng ini pun disebut menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kota-kota di dunia mulai bereksperimen dengan teknologi praktis untuk membuat lingkungan perkotaan tetap nyaman huni di tengah cuaca ekstrem yang makin sering terjadi.