

Barru, Petta – Pemerintah Kabupaten Barru terus mendorong pelestarian tradisi lokal sekaligus mengintegrasikannya dengan pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif di kawasan pedesaan.
Komitmen tersebut ditegaskan saat Wakil Bupati Barru Abustan A. Bintang mewakili Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari membuka secara resmi Festival Mappadendangan dan Tari Sere Api di Lapangan Dusun Lempang, Desa Gattareng, Kecamatan Pujananting, Sabtu malam (25/7/2026).
Dalam sambutannya, Abustan menyampaikan apresiasi atas sinergi panitia dan masyarakat Desa Gattareng yang berhasil mengemas perayaan budaya lokal secara meriah. Ia pun meminta ajang ini disebarluaskan secara masif melalui berbagai platform digital.
“Festival seperti ini harus dikenal lebih luas. Saya minta videonya diviralkan melalui media sosial, Instagram, Facebook hingga TikTok. Anak-anak KKN juga punya tugas membantu mempromosikan kegiatan ini agar dunia mengetahui kekayaan budaya Gattareng,” ujar Abustan di hadapan ratusan warga dan tamu undangan.
Rasa Syukur Panen dan Komoditas Strategis
Abustan menjelaskan bahwa Mappadendang yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) bukan sekadar atraksi seni, melainkan simbol rasa syukur kolektif atas hasil panen yang melimpah.
Ia mengungkapkan, tren positif harga gabah petani di Barru yang saat ini menembus Rp 7.400 per kilogram menjadi bukti nyata berkontribusinya sektor pertanian terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.
Di tengah akulturasi budaya wilayah perbatasan Bone, Maros, dan Pangkep, Wabup memuji konsistensi warga Gattareng dalam merawat adat istiadat leluhur.
“Kalau budaya kita hilang, masa depan juga akan kehilangan jati dirinya. Karena itu budaya harus tetap dipelihara dan menjadi kebanggaan bersama,” tegas Abustan.
Integrasi Budaya, Wisata, dan Produk Kopi Gattareng
Menanggapi besarnya potensi landscape pegunungan Gattareng, Abustan menginstruksikan Dinas Pariwisata bersama Dinas Pertanian Kabupaten Barru untuk memetakan skema pengembangan desa wisata terpadu.
Gattareng dinilai memiliki nilai jual tinggi, mulai dari panorama persawahan hingga produk UMKM khas seperti Kopi Gattareng dan dodol kacang.
“Jika budaya dijaga, pariwisatanya berkembang, UMKM tumbuh, maka ekonomi masyarakat juga akan bergerak. Semua potensi ini harus dikelola secara bersama agar memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” urainya.
Pada kesempatan tersebut, Wabup juga mengapresiasi penggiat budaya Nur Amin beserta panitia yang berhasil menggaet dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan. Pemkab Barru berjanji memberikan penghargaan khusus atas dedikasi pelestarian tersebut.
Selain isu budaya, Abustan kembali mengingatkan masyarakat untuk menjaga semangat gotong royong serta meningkatkan kewaspadaan dari ancaman kebakaran pemukiman di musim kemarau akibat korsleting pengisian daya ponsel maupun kompor.
Acara ini turut dihadiri pemangku adat seperti Petta Pabbicara A. Kalim dan Petta Hangnga A. Sarnwia Oddang, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Barru, Kadis Disparekrafpora Barru, Kadis TPHP Barru, Camat Pujananting, jajaran Kepala Desa se-Kecamatan Pujananting, serta mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin.