Kasus DBD Capai 362 Ribu di 2026, Warga Diminta Waspada Musim Hujan

Bantaran Kali Grogol dekat Jalan Palem Utara, Kelurahan Palmerah, Kecamatan Palmerah, Jakarta Barat, Senin (2/11/2026). (Kompas.id/Santi)

JAKARTA, Petta – Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena peningkatan kasus berpotensi terjadi saat memasuki musim hujan.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman mengatakan, jumlah kasus DBD sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mencapai 362.497 kasus.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, puncak kasus pada 2026 terjadi pada minggu ke-38 dengan jumlah sekitar 10.500 kasus. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan puncak kasus pada dua tahun sebelumnya.

Pada 2025, puncak kasus terjadi pada minggu ke-3 hingga minggu ke-5, dengan jumlah lebih dari 20.000 kasus per minggu. Sementara itu, pada 2024, puncak kasus berlangsung pada minggu ke-13 hingga minggu ke-21 dengan lebih dari 22.000 kasus per minggu.

Aji mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meskipun tren kasus sedang menurun. Sebab, perubahan musim dapat memengaruhi peningkatan penyebaran penyakit tersebut.

”Kewaspadaan tetap harus dilakukan karena tren akan meningkat di musim hujan seperti pada awal tahun,” ujarnya di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Jawa Barat mencatat kasus terbanyak

Hingga Oktober 2026, kasus suspek dengue terbanyak tercatat di Jawa Barat dengan 74.688 kasus. Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur sebanyak 49.987 kasus dan Jawa Tengah sebanyak 45.171 kasus.

DKI Jakarta berada di urutan kelima dengan 31.789 kasus. Adapun provinsi dengan jumlah kasus terendah adalah Papua Pegunungan, yakni 32 kasus.

Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa kelompok anak-anak dan lanjut usia perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan maupun penanganan DBD.

Warga bantaran kali terbiasa menghadapi nyamuk

Kewaspadaan terhadap DBD juga menjadi perhatian warga yang tinggal di sekitar aliran Kali Grogol, Jakarta. Pada Senin (2/11/2026) pagi, aktivitas warga di sepanjang bantaran kali tetap berlangsung seperti biasa.

Namun, keberadaan nyamuk di sekitar permukiman telah menjadi pemandangan sehari-hari bagi sebagian warga. Salah satunya Blangkon (57), warga Jalan Palem Utara, Palmerah, Jakarta Barat.

Ia mengaku sudah terbiasa menghadapi banyak nyamuk karena tinggal di dekat aliran kali. Meski demikian, upaya perlindungan yang dilakukannya masih sederhana, yakni menggunakan krim antinyamuk.

”Kalau hujan sebenarnya lebih adem, paling kalau ada nyamuk pakai krim antinyamuk aja,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Asman (63), warga Palmerah lainnya. Menurut dia, pengasapan atau fogging menjadi salah satu bentuk penanggulangan DBD yang dilakukan secara bersama-sama di lingkungannya.

Ketua RT 009 RW 005 Kelurahan Kemandoran, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Abdul Rohim, mengatakan kegiatan fogging biasanya dilakukan saat memasuki musim pancaroba.

Selain itu, pemantauan jentik nyamuk oleh juru pemantau jentik (jumantik) juga rutin dilakukan setiap dua minggu. Setiap RT memiliki satu hingga dua kader yang bertugas memeriksa lingkungan warga.

”Biasanya, kita swadaya buat fogging, selain itu kadang masyarakat mencegah sendiri juga pakai krim antinyamuk atau minyak kayu putih,” ucapnya.

Abdul menambahkan, jumlah nyamuk di wilayahnya terkadang meningkat saat musim kemarau. Ketika Kali Grogol surut, sampah yang muncul ke permukaan dapat menjadi salah satu sumber masalah lingkungan.

Ia juga menyebut pernah ada warga yang terjangkit DBD beberapa bulan sebelumnya. Kasus tersebut diketahui setelah petugas melakukan pemeriksaan kesehatan dari rumah ke rumah.

”Beberapa bulan lalu ada warga yang kena DBD, itu tahunya pas ada pengecekan kesehatan ke rumah-rumah warga,” ujarnya.

Kenali tempat berkembang biak dan tanda bahaya DBD

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PP PDUI) periode 2026–2029, Ardiansyah Bahar, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menjelang musim hujan.

Ia menjelaskan, tinggal di bantaran kali atau kawasan lembap tidak secara otomatis meningkatkan risiko DBD. Risiko perlu diwaspadai terutama ketika lingkungan dipenuhi sampah dan genangan air.

”Nyamuk Aedes aegypti umumnya berkembang biak pada genangan air di wadah buatan manusia, seperti ember, bak mandi, drum, kaleng, dan barang bekas yang menampung air,” ucapnya.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan tempat-tempat yang berpotensi menampung air di sekitar rumah. Pemberantasan sarang nyamuk dan pemeriksaan jentik secara berkala menjadi bagian penting dari pencegahan.

Selain mencegah perkembangbiakan nyamuk, masyarakat juga perlu mengenali tanda bahaya DBD. Ardiansyah menyebut beberapa gejala yang harus diwaspadai, antara lain demam disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas, hingga penurunan kesadaran.

Anak-anak dan lansia membutuhkan perhatian lebih karena berisiko mengalami kondisi yang lebih berat. Pada anak-anak, DBD dapat berkembang menjadi kondisi serius. Sementara itu, lansia berpotensi mengalami komplikasi, terutama jika memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, atau gangguan ginjal.

Dengan demikian, penurunan tren kasus tidak seharusnya membuat masyarakat mengabaikan pencegahan. Menjaga lingkungan tetap bersih, menghilangkan genangan air, serta segera mencari pertolongan medis ketika muncul tanda bahaya tetap diperlukan, terutama menjelang musim hujan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami