Sama-Sama Berbahaya, Kenapa Vaping Tetap Jadi Tren Populer Anak Muda?

Ilustrasi remaja pengguna rokok elektrik. (©Teksomolika)

Petta – Meski sudah berulang kali diperingatkan bahayanya, rokok elektrik atau vape justru makin digemari anak muda Indonesia. Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sudah menjadi bagian dari gaya hidup, terutama di kalangan remaja perkotaan.

Berdasarkan survei Statista tahun 2023, Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan persentase pengguna rokok elektrik tertinggi di dunia, yaitu sebesar 25 persen, jauh melampaui Swiss yang berada di angka 16 persen. Sementara itu, data Kementerian Kesehatan lewat Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan sekitar 12 persen remaja usia 13-17 tahun sudah menggunakan rokok elektronik.

Kota Besar Jadi Episentrum Tren Vape

Penyebaran vape di Indonesia ternyata tidak merata di semua daerah. DI Yogyakarta mencatatkan persentase pengguna rokok elektrik tertinggi, yakni 9,6 persen dari total penduduk usia di atas lima tahun, disusul Bali dengan 8,5 persen, Kalimantan Timur 8,1 persen, dan DKI Jakarta 6,3 persen. Pola ini memperlihatkan bahwa vape lebih dominan berkembang di wilayah dengan tingkat urbanisasi tinggi.

Kemudahan akses, gaya hidup perkotaan, hingga gempuran promosi di media sosial disebut menjadi faktor yang mempercepat penyebaran tren ini di kalangan anak muda. Banyak remaja tertarik mencoba vape karena dianggap lebih modern, punya varian rasa menarik, dan desain yang dianggap “keren” dibanding rokok konvensional.

Dianggap Lebih Aman, Padahal Sama Berbahayanya

Anggapan bahwa vape lebih aman ketimbang rokok konvensional nyatanya keliru. Wakil Menteri Kesehatan saat itu, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan hal ini dalam peluncuran data Survei Global Penggunaan Tembakau pada Masyarakat Indonesia 2021 (GATS 2021).

“Merokok elektrik itu sama bahayanya dengan merokok konvensional. Tidak ada bedanya risiko merokok konvensional dan elektrik, dua-duanya sama bahayanya baik itu sekarang dari segi sosial ekonomi maupun untuk masa depan masalah penyakit yang mungkin timbul dari aktivitas merokok elektrik,”

Dante Saksono Harbuwono

Kandungan nikotin dalam vape juga tak boleh dianggap enteng, terutama bagi remaja yang otaknya masih dalam tahap perkembangan. Paparan nikotin di usia muda berisiko mengganggu perkembangan kognitif sekaligus meningkatkan peluang ketergantungan jangka panjang.

Persoalan ini diperparah dengan minimnya regulasi yang mengatur penjualan, promosi, dan distribusi produk vape di Indonesia. Akibatnya, anak muda semakin mudah terpapar dan terdorong untuk mencoba, tanpa pemahaman utuh soal risiko kesehatan yang mengintai di baliknya.

Situasi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan lembaga kesehatan untuk segera menghadirkan aturan yang lebih ketat, sekaligus edukasi yang menyasar langsung kalangan remaja sebagai kelompok paling rentan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts