

Makassar, Petta – Ratusan peternak ayam petelur dari 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar, Senin (10/8/2026). Mereka menuntut pemerintah segera menstabilkan harga pakan ternak yang terus melonjak sekaligus harga telur yang belakangan anjlok di pasaran.
Aksi yang tergabung dalam Aksi Damai Peternak Rakyat Sulawesi ini juga digelar di kantor sementara DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani. Ruas Jalan Urip Sumoharjo pun sempat ditutup sepanjang berlangsungnya demonstrasi.
Tiga mobil pikap dikerahkan dalam aksi tersebut. Satu unit membawa ayam petelur, satu lagi mengangkut telur, sementara satu mobil lainnya digunakan sebagai panggung orasi bagi massa peternak.
Klaim Rugi Selama Empat Bulan
Penanggung jawab aksi, Basuki Suyuti, mengungkapkan bahwa peternak sudah menanggung kerugian sejak beberapa bulan terakhir. Menurutnya, harga pakan terus naik, sedangkan harga jual telur di pasaran justru terus melemah.
“Ini sudah masuk bulan keempat di mana peternak berugi,” ujar Basuki, sebagaimana dikutip dari Disway Sulsel.
Kondisi itu membuat peternak harus menombok modal setiap hari hanya untuk mempertahankan usahanya. Basuki menyebutkan, kerugian yang ditanggung peternak berkisar antara Rp3.000 hingga Rp4.000 untuk setiap rak telur yang terjual.
“Setiap hari kami harus menomboki Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per rak telur,” kata Basuki kepada awak media di tengah aksi.
Selain itu, ia juga merinci kenaikan harga pakan yang terjadi sejak Mei 2026. Harga pakan konsentrat, misalnya, kini menyentuh angka yang cukup memberatkan peternak kecil.
“Harga pakan saat ini sudah di angka Rp9.000 per kilogram untuk konsentrat,” ungkap Basuki, seperti dilansir Tribun-Timur.
Bagikan Ayam dan Telur sebagai Bentuk Protes
Di tengah aksi, para peternak membagikan telur dan ayam secara cuma-cuma kepada warga serta pengendara yang melintas di lokasi demonstrasi. Langkah ini sengaja dilakukan sebagai simbol keprihatinan atas kondisi usaha mereka yang kian terpuruk.
Pembagian ayam dan telur gratis tersebut juga menjadi cara peternak menyampaikan pesan bahwa mereka sudah tidak sanggup lagi membiayai pakan ternaknya. Dengan kata lain, hasil ternak lebih baik dibagikan ketimbang terus merugi akibat biaya produksi yang membengkak.
Sementara itu, aksi serupa sebelumnya juga terjadi di sejumlah daerah lain. Di Solo, misalnya, kelompok peternak Solo Raya turun ke jalan pada 5 Agustus 2026 dan membagikan 50 ekor ayam broiler hidup beserta 1.000 butir telur kepada masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan para peternak. Massa aksi berharap Pemprov Sulsel segera mengambil langkah konkret agar harga pakan dan telur kembali stabil.