Jagad Maya Dihebohkan Kebangkitan Twitter Lewat Startup Baru, Elon Musk Murka

Ilustrasi Elon Musk yang murka ke Operation Bluebird. (©Petta Indonesia/Muh. Syahid Agil)

Petta – Nama dan logo burung biru Twitter muncul kembali di jagat maya. Namun, kebangkitan itu bukan datang dari Elon Musk, melainkan dari sebuah startup kecil bernama Operation Bluebird.

Kondisi ini justru memicu kemarahan Musk. Sebab, kemunculan platform baru bernama Twitter.now itu berujung pada pertarungan hukum sengit yang hingga kini belum menemui titik akhir.

Siapa di Balik Kebangkitan Twitter?

Operation Bluebird diluncurkan oleh Stephen Coates, mantan penasihat hukum merek dagang pertama Twitter, bersama pengacara asal Illinois, Michael Peroff. Startup berbasis di Virginia, Amerika Serikat, ini resmi merilis Twitter.now pada 26 Agustus 2026.

Platform tersebut menghidupkan kembali nama “Twitter” sekaligus logo burung biru yang dihapus Musk setelah ia mengakuisisi perusahaan itu pada 2022. Selanjutnya, Musk mengubah total identitas Twitter menjadi X pada 2023.

Menariknya, Coates menegaskan bahwa Twitter.now bukan sekadar upaya menghidupkan platform lama. Ia justru menawarkan pendekatan baru dalam soal moderasi konten, salah satunya lewat fitur bernama Trust Dial berbasis kecerdasan buatan (AI).

Lewat unggahan di LinkedIn, Coates menyampaikan pesan singkat yang menyindir X. “Get over your X. The bird is back,” tulisnya, merujuk pada kembalinya identitas Twitter.

Alasan di Balik Klaim Startup Ini

Dasar hukum yang digunakan Operation Bluebird terbilang berani. Mereka berpegang pada teori bahwa X Corp telah “meninggalkan” atau abandon hak merek dagang Twitter sejak proses rebranding pada 2023.

Menurut Undang-Undang Merek Dagang Federal Amerika Serikat atau Lanham Act, tiga tahun berturut-turut tanpa penggunaan aktif sebuah merek dapat memunculkan dugaan bahwa merek tersebut telah ditinggalkan. Operation Bluebird pun memanfaatkan celah ini untuk mengajukan petisi ke Kantor Paten dan Merek Dagang AS (USPTO).

Akan tetapi, X Corp tidak tinggal diam. Perusahaan yang kini menjadi bagian dari xAI, dan pada 2026 berpindah kendali di bawah SpaceX milik Musk, langsung menggugat balik Operation Bluebird ke pengadilan federal Delaware atas dugaan pelanggaran merek dagang.

Putusan Hakim yang Bikin Geram

Pertarungan hukum ini akhirnya sampai ke meja Hakim Distrik AS, Colm Connolly. Pada 3 September 2026, ia mengeluarkan putusan yang terbelah dua arah sekaligus.

Di satu sisi, hakim mengabulkan permohonan injunksi sementara dari X Corp untuk delapan jenis merek dagang bertema “Twitter”. Artinya, Operation Bluebird untuk sementara dilarang memakai sejumlah nama dan atribut tersebut secara luas.

Namun di sisi lain, hakim justru menolak permohonan X Corp terkait merek “Tweet” dan logo burung biru. Dengan kata lain, Musk memang menang sebagian, tetapi juga kehilangan klaim atas dua aset ikonik yang selama ini identik dengan Twitter.

Pengacara merek dagang asal Washington DC, Josh Gerben, yang mengikuti kasus ini menilai langkah Operation Bluebird memang penuh keberanian. “There’s an element of chutzpah to do this,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa startup itu bakal menghadapi perlawanan keras dari X.

Pertahanan X Bersandar pada Satu Kalimat di App Store

Selama persidangan, tim hukum X Corp berusaha membuktikan bahwa merek Twitter belum sepenuhnya ditinggalkan. Salah satu bukti kunci yang mereka ajukan justru terkesan sederhana, yakni keterangan di halaman aplikasi X di App Store.

Keterangan tersebut berbunyi “Welcome to X (formerly known as Twitter)”. Direktur hukum X, Naser Baseer, bahkan bersaksi bahwa kalimat itu memang sengaja dipertahankan agar pengguna yang mencari kata “Twitter” tetap terarah ke aplikasi X.

Sementara itu, kasus ini belum sepenuhnya berakhir. Baik gugatan di pengadilan Delaware maupun proses pembatalan merek dagang di USPTO masih berjalan paralel, sehingga status akhir nama Twitter masih menggantung.

Meski begitu, Twitter.now tetap berjalan dengan skema keanggotaan berbayar, mulai dari status “Founding Member” seharga 20 dolar AS hingga status “Fighter” senilai 40 dolar AS ke atas. Dengan begitu, drama rebutan identitas digital ini kemungkinan besar masih akan berlanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami