

Petta – Diabetes lama dikenal sebagai penyakit orang berusia lanjut. Namun, gambaran itu kini mulai bergeser.
Data yang dihimpun Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga menunjukkan, proporsi kasus diabetes tipe 2 pada anak dan remaja di Indonesia melonjak tajam dalam 15 tahun terakhir. Angka itu naik dari sekitar 2 persen menjadi 33 persen.
Lonjakan ini erat kaitannya dengan gaya hidup generasi muda saat ini. Perubahan pola makan anak dan remaja dalam dua dekade terakhir turut mendorong peningkatan prevalensi diabetes tipe 2 tersebut.
Selain itu, konsumsi minuman manis secara rutin juga menjadi sorotan. Kajian Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebutkan, kebiasaan ini berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, bahkan risikonya lebih besar pada kelompok usia muda dan populasi Asia.
Sayangnya, banyak anak muda tidak menyadari tubuh mereka sudah mengirim sinyal bahaya. Padahal, mengenali gejala sejak dini bisa mencegah komplikasi yang lebih serius di kemudian hari.
Mengapa Anak Muda Kini Lebih Rentan
Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh mengalami resistensi insulin. Akibatnya, gula tidak dapat masuk ke sel dan justru menumpuk di dalam darah.
Beberapa kebiasaan sehari-hari ternyata mempercepat kondisi ini muncul pada usia muda. Berikut faktor pemicu yang paling umum ditemukan pada generasi sekarang:
- Kurang aktivitas fisik. Gaya hidup sedentari membuat tubuh lebih sulit mengontrol kadar gula darah serta meningkatkan risiko obesitas.
- Kelebihan berat badan. Penumpukan lemak berlebih dapat menyebabkan resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif.
- Pola makan tidak sehat. Konsumsi makanan tinggi gula, lemak, garam, dan makanan ultra-proses turut meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk diabetes.
- Riwayat keluarga. Risiko anak terkena diabetes tipe 2 meningkat jika orang tua atau saudara kandungnya juga mengidap penyakit tersebut.
Kondisi ini kerap tidak muncul sekaligus. Namun, jika dibiarkan tanpa kontrol, dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang.
5 Tanda Gula Darah Tinggi yang Kerap Diabaikan
Sayangnya, gejala diabetes pada usia muda sering kali dianggap sekadar kelelahan biasa. Padahal, tubuh biasanya memberi sinyal yang cukup jelas.
Berikut lima tanda gula darah tinggi yang perlu diwaspadai, terutama jika muncul bersamaan:
- Rasa haus berlebihan. Tubuh terus meminta cairan karena kadar gula dalam darah yang tinggi menarik air keluar dari jaringan.
- Sering buang air kecil, termasuk di malam hari, karena ginjal berusaha membuang kelebihan gula lewat urine.
- Mudah lapar meski baru makan. Sel tubuh tidak mendapat cukup energi walau kadar gula darah sebenarnya tinggi.
- Penglihatan kabur akibat perubahan cairan pada lensa mata yang dipengaruhi kadar gula darah.
- Tubuh mudah lelah dan lemas, sebab glukosa tidak terserap optimal ke dalam sel untuk diubah menjadi energi.
Keempat gejala pertama tersebut memang tergolong klasik. Secara medis, gejala awal hiperglikemia atau kadar glukosa darah tinggi umumnya meliputi rasa haus berlebihan, kelaparan berlebihan, buang air kecil berlebihan, dan penglihatan kabur.
Meski begitu, tanda-tanda tersebut tidak selalu muncul jelas pada semua orang. Diabetes tipe 2 sering berkembang secara perlahan, sehingga banyak individu tidak merasakan gejala yang jelas sejak awal.
Oleh karena itu, gejala yang samar bukan berarti kondisi aman. Justru di sinilah letak bahayanya, sebab penyakit bisa berkembang tanpa disadari.
Kapan Harus Memeriksakan Diri
Jika salah satu atau beberapa tanda di atas mulai terasa, sebaiknya jangan menunggu hingga kondisi memburuk. Pemeriksaan gula darah sederhana dapat memberi gambaran awal yang akurat.
Selain itu, anak muda dengan faktor risiko tinggi, seperti berat badan berlebih atau riwayat keluarga diabetes, disarankan melakukan pengecekan secara berkala. Langkah ini penting agar penanganan bisa dilakukan lebih dini.
Sebab, apabila dibiarkan tanpa penanganan, diabetes dapat berdampak jauh melampaui urusan gula darah semata. Kondisi ini dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, penyakit ginjal kronis, hingga kehilangan penglihatan.
Kabar baiknya, risiko tersebut bisa ditekan lewat perubahan kebiasaan yang sederhana. Beraktivitas fisik secara rutin, menjaga pola makan, serta memantau berat badan menjadi langkah awal yang paling realistis untuk dilakukan generasi muda saat ini.