

Petta – Tren perawatan kulit di kalangan masyarakat Indonesia mulai berubah arah. Jika beberapa tahun lalu banyak orang berlomba mengejar kulit putih dan glowing dalam waktu singkat, kini perhatian mulai bergeser ke hal yang lebih mendasar: menjaga skin barrier atau lapisan pelindung kulit tetap sehat.
Pergeseran ini tidak lepas dari makin banyaknya kasus kulit rusak akibat penggunaan produk pencerah instan maupun rutinitas skincare berlapis-lapis yang sempat menjadi tren di media sosial. Banyak konsumen kini lebih memilih pendekatan sederhana namun berbasis bukti ilmiah, ketimbang hasil cepat yang belum tentu aman dalam jangka panjang.
Bahaya di Balik Hasil Instan
Dokter spesialis kecantikan, Eddy Widjaja, mengatakan bahwa keinginan mendapatkan kulit cerah dalam waktu singkat justru sering menjadi bumerang bagi kesehatan kulit. Menurutnya, tidak ada proses regenerasi kulit yang benar-benar bisa dipercepat tanpa risiko.
“Hasilnya memang instan, tapi jangka panjangnya pasti nanti bermasalah,” ujar dr. Eddy Widjaja seperti dikutip dari detikcom.
Ia menambahkan, pasien yang datang ke kliniknya akibat produk pencerah instan umumnya mengalami peradangan hingga perubahan warna kulit yang justru menghitam. Proses pemulihan skin barrier pada kasus seperti ini bisa memakan waktu satu hingga dua bulan.
Kondisi serupa juga pernah disinggung dokter sekaligus penyanyi, Teuku Adifitrian atau yang akrab disapa dr. Tompi. Dalam sebuah obrolan podcast yang sempat viral, ia menjelaskan bahwa pasien yang terlalu sering melakukan perawatan wajah, baik lewat prosedur laser, peeling, maupun skincare aktif, justru berisiko mengalami penipisan kulit.
“Semakin dia perawatan, kulitnya bukan makin bagus, makin rusak,” kata dr. Tompi.
Skin Minimalism Jadi Pilihan Baru
Pergeseran gaya hidup ini turut memunculkan tren yang disebut skin minimalism, yakni pendekatan perawatan kulit dengan langkah lebih sederhana dibandingkan rutinitas sepuluh langkah ala Korea yang sempat populer. Fokusnya kini bukan lagi pada banyaknya produk yang digunakan, melainkan kesesuaian produk dengan kebutuhan kulit.
Dermatolog bersertifikasi asal Amerika Serikat, Nava Greenfield, menilai penggunaan terlalu banyak produk aktif sekaligus justru dapat memicu iritasi, peradangan, hingga ketidakseimbangan pada kulit. Ia menyarankan agar rutinitas perawatan kulit kembali difokuskan pada kebutuhan inti, yaitu membersihkan, melembapkan, dan melindungi kulit dari paparan sinar matahari.
Pendekatan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya skin barrier yang sehat. Lapisan terluar kulit yang dikenal sebagai stratum korneum ini berfungsi menjaga kelembapan sekaligus melindungi kulit dari polusi, iritasi, dan paparan zat berbahaya dari luar. Ketika lapisan ini rusak, kulit menjadi lebih mudah kemerahan, kering, dan sensitif terhadap berbagai produk.
Bagi masyarakat yang ingin memulai perawatan berbasis skin barrier, para ahli menyarankan untuk tidak tergesa-gesa. Konsistensi menggunakan pembersih yang lembut, pelembap dengan kandungan ceramide, serta tabir surya setiap hari dinilai jauh lebih efektif dibandingkan mengejar hasil instan yang berisiko merusak kulit dalam jangka panjang.