
Petta – Amerika Serikat kembali melancarkan serangan besar-besaran ke Iran dalam dua hari terakhir, menyusul runtuhnya gencatan senjata rapuh yang sempat disepakati kedua negara pada Juni lalu. Kementerian Kesehatan Iran mencatat 14 orang tewas dan 78 lainnya luka-luka akibat rentetan serangan tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun, Amerika Serikat menggempur total 170 target di Iran dalam kurun dua hari, setelah militer AS menghantam 80 target pada Selasa (7/7) malam, disusul sekitar 90 target militer lainnya hingga Kamis (9/7). Sebagian besar serangan menyasar pantai selatan Iran, meski sejumlah target juga menjangkau wilayah pedalaman dan utara negara itu.
Iran melaporkan serangan itu turut merusak infrastruktur sipil. Jembatan kereta api di Aqalla dilaporkan rusak parah, dan Teheran menyebut penargetan infrastruktur sipil seperti instalasi air dan listrik berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang. Menanggapi hal ini, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) bersumpah akan melancarkan balasan yang lebih tegas.

Bermula dari Serangan ke Kapal Tanker
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan terbaru Iran terhadap kapal-kapal di selat itu menandai berakhirnya gencatan senjata yang selama ini rapuh. Setelah tiga kapal tanker diserang pada Selasa (7/7), AS melancarkan serangan balasan ke Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang sejumlah lokasi militer AS di Teluk Persia.
Dalam unggahan di media sosialnya, Trump menegaskan aksi militer AS sebagai bentuk pembalasan. “Ini adalah pembalasan atas pengeboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika itu terjadi lagi, situasinya akan jauh lebih buruk!” tulis Trump.
Trump juga sempat mengklaim keunggulan telak militernya di sela KTT NATO di Ankara, Turki. “Kami baru saja menyerang mereka dengan sangat keras. Saya katakan, kami menyerang mereka dengan skor 20 banding 1,” ujar Trump, dikutip dari BBC.
Iran Balas Serang Pangkalan AS
Iran tidak tinggal diam. Militer Iran membalas dengan menargetkan pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Qatar pada Kamis (9/7). Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan telah menargetkan sejumlah fasilitas militer AS, termasuk Bandar Salman yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, dan mengeklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone pengintai MQ-9 milik AS.
Serangan-balasan ini terjadi bertepatan dengan momen sensitif di Iran. Rentetan serangan itu berlangsung bersamaan dengan prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang berlangsung hingga Kamis (9/7).
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan sikap Teheran tidak akan melunak menghadapi tekanan AS. “Era perundungan dan pemerasan sudah berakhir. Itu tidak akan membawa hasil. Kami tidak akan tunduk,” tulisnya di X.
Nasib Perjanjian Interim Terancam
Eskalasi kekerasan terbaru ini membuat perjanjian interim yang disepakati AS dan Iran pada Juni lalu untuk mengakhiri perang kini berada di ujung tanduk. Meski gencatan senjata dinyatakan “berakhir”, Trump mengaku tetap mengizinkan negosiator AS melanjutkan perundingan dengan Iran, kendati ia ragu perundingan itu akan membuahkan hasil.
Situasi di kawasan Teluk kini kembali memanas, dengan Selat Hormuz jalur vital pengiriman minyak dunia menjadi episentrum ketegangan antara kedua negara yang sebelumnya berulang kali gagal mempertahankan gencatan senjata sejak konfrontasi militer pertama pecah pada akhir Februari lalu.