

Petta – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan pada Rabu (19/8/2026). Kali ini, sebaran asap tak lagi terkonsentrasi di Banjarbaru, melainkan mulai merambah masuk ke wilayah Kota Banjarmasin.
Di Banjarbaru, kabut asap tercatat paling pekat sejak karhutla melanda kota tersebut. Kawasan Landasan Ulin, Liang Anggang, hingga Pengayuan menjadi titik paling terdampak, dengan jarak pandang menyempit drastis pada pagi hari.
Kepala Dinas Pertanian Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, yang kebetulan melintas di Landasan Ulin turut merasakan pekatnya asap tersebut. “Kabut asap ini sangat pekat. Jarak pandang hanya sekitar 5 sampai 10 meter saja,” ujarnya, seperti dikutip dari Kompas.com.
Akibat minimnya jarak pandang, para pengendara pun terpaksa memperlambat laju kendaraan agar terhindar dari kecelakaan. Syamsir bahkan mengimbau warga Banjarmasin yang hendak melintas ke Banjarbaru agar mengenakan masker sebab kondisi asap sudah tergolong membahayakan.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarbaru mencatat, hingga Selasa (18/8/2026), telah terjadi 162 kali kejadian karhutla di kota tersebut sejak awal musim kemarau. Akibatnya, luas lahan yang hangus mencapai 945 hektare, dengan Kecamatan Landasan Ulin sebagai wilayah paling parah terdampak.
Asap Mulai Merambah ke Banjarmasin
Sementara itu, dampak karhutla mulai dirasakan pula oleh warga Banjarmasin, meski intensitasnya belum separah Banjarbaru. Menanggapi kondisi ini, BPBD Kota Banjarmasin membagikan lebih dari 1.000 masker kepada warga di sejumlah titik, salah satunya di area flyover Jalan Ahmad Yani Km 4,5.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarmasin, Husni Thamrin, menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak buruk paparan asap. “Pembagian masker disalurkan kepada pekerja luar ruangan, warga di wilayah perbatasan, hingga petugas lapangan,” jelasnya, sebagaimana dilansir Banjarmasin Post.
Di sisi lain, upaya pemantauan kualitas udara di Banjarmasin justru terganjal kendala teknis. Alat Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang terpasang di kota tersebut dilaporkan rusak, sehingga kualitas udara belum bisa diukur secara akurat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Jefrie Fransyah, mengatakan pihaknya telah mengajukan permohonan perbaikan alat itu ke KLHK. Sambil menunggu perbaikan, ia meminta warga tetap disiplin memakai masker. “Mungkin upaya yang bisa kami lakukan imbauan saja dulu,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.
Sekolah Mundurkan Jam Masuk, Kasus ISPA Meningkat
Kabut asap turut berimbas ke sektor pendidikan. Di Banjarbaru, SD Islam Creative (SDIC) memutuskan menunda jam masuk sekolah demi keselamatan siswa. “Benar, asap karhutlanya tebal, sekolah anak kami mundur jadi masuk pukul 09.00 wita,” kata Sekar, salah satu wali murid, dikutip dari Banjarmasin Post.
Menurut Sekar, sekolah bahkan berpotensi diliburkan apabila kabut tak kunjung mereda. Selain mengganggu aktivitas belajar, paparan asap juga berdampak pada kesehatan warga, terlihat dari lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang sempat menembus lebih dari 1.000 kasus di Banjarbaru pada pekan-pekan sebelumnya.
Warga Diimbau Waspada, BMKG Prediksi Asap Masih Berlanjut
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Selatan memperkirakan kabut asap masih akan menyelimuti sejumlah daerah, termasuk Banjarbaru dan Banjar, pada Kamis (20/8/2026). Kondisi ini diperparah oleh cuaca panas ekstrem yang berlangsung di tengah musim kemarau.
Menghadapi situasi tersebut, warga diimbau menerapkan sejumlah langkah antisipasi berikut ini:
- Menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
- Mengurangi aktivitas luar rumah, terutama pada pagi hari saat asap paling pekat.
- Memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga daya tahan tubuh.
- Memprioritaskan perlindungan bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.
- Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, atau iritasi mata.
Di tengah situasi ini, warga berharap hujan segera turun untuk membantu memadamkan titik api sekaligus membersihkan udara dari kabut asap yang telah mengganggu aktivitas sehari-hari.