

Petta – Harga minyak dunia melanjutkan pelemahan pada perdagangan Kamis (17/9/2026) pagi, setelah sebelumnya anjlok tajam pada Rabu (16/9/2026). Penurunan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman.
Kabar tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, data persediaan minyak mentah Amerika Serikat yang turun lebih kecil dari perkiraan turut menambah tekanan terhadap harga.
Pada penutupan perdagangan Rabu, kontrak berjangka Brent anjlok 2,7 persen dan berakhir di level 105,83 dollar AS per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS tergelincir lebih dalam, yakni 3,2 persen, menjadi 102,43 dollar AS per barel.
Pelemahan berlanjut keesokan harinya. Pada Kamis pagi, Brent kembali turun 1,2 persen ke level 104,59 dollar AS per barel, sedangkan WTI melemah 1,1 persen menjadi 101,29 dollar AS per barel.
Pasokan Alternatif Lewat Oman
Berdasarkan sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Arab Saudi menawarkan tambahan pengiriman minyak mentah kepada kilang-kilang di Asia melalui metode transfer antarkapal di lepas pantai Pelabuhan Sohar, Oman. Lokasi ini berada di luar Selat Hormuz, sehingga dianggap sebagai jalur alternatif yang lebih aman.
Perusahaan minyak negara Arab Saudi, Aramco, dilaporkan menawarkan tiga jenis minyak mentah, yaitu Arab Light, Arab Medium, dan Arab Heavy, kepada pembeli di Asia untuk dimuat di lepas pantai Sohar. Menariknya, ini bukan kali pertama skema serupa digunakan. Dalam beberapa pekan terakhir, Aramco setidaknya sudah dua kali menawarkan Arab Medium dan Arab Heavy dengan cara yang sama kepada pembeli di kawasan tersebut.
Chief Strategist Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, mengatakan langkah ini berhasil meredam kekhawatiran pasar.
“Kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan sedikit mereda setelah kabar bahwa Arab Saudi akan mengirim kargo melalui Oman,” ujarnya, dikutip dari Reuters.
Ia menambahkan, ekspektasi kemajuan dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah menjelang pertemuan Amerika Serikat dan China pekan depan juga turut membatasi kenaikan harga.
Dampak Serangan Pipa Menuju Yanbu
Langkah Arab Saudi menambah pasokan lewat Oman tidak lepas dari gangguan pada infrastruktur ekspor minyaknya. Serangan drone sebelumnya merusak jalur pipa East-West yang mengalirkan minyak menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Dua stasiun pompa yang melayani jalur pipa tersebut rusak akibat serangan pekan lalu, dan hingga kini belum ada kepastian soal waktu perbaikannya.
Akibatnya, pemuatan minyak mentah di Yanbu sempat dihentikan, dan Riyadh bahkan membatalkan sejumlah pengiriman kepada pelanggan di Eropa. Padahal, Yanbu menjadi jalur ekspor utama Arab Saudi sejak Iran memblokade Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
Sebagai gambaran, sebelum konflik meletus, Selat Hormuz menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Data pelayaran awal pekan ini pun menunjukkan penurunan drastis lalu lintas kapal di selat tersebut, dari rata-rata 18 kapal per hari dalam 10 hari terakhir, menjadi hanya empat kapal pada Selasa lalu.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai kabar peningkatan ekspor Arab Saudi dari wilayah Teluk menjadi sinyal positif bagi pasar.
“Kabar mengenai ekspor Arab Saudi dari wilayah Teluk mengindikasikan bahwa kekhawatiran atas gangguan pasokan yang lebih luas mulai mereda,” kata Staunovo, dikutip dari Yahoo Finance.
Stok Minyak AS Turun Lebih Kecil dari Perkiraan
Selain faktor pasokan Timur Tengah, tekanan terhadap harga minyak juga berasal dari data persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah negara itu turun sekitar 640.000 barel pada pekan lalu.
Namun demikian, angka penurunan tersebut ternyata jauh lebih kecil dibandingkan ekspektasi pasar. Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap sejumlah analis energi, penurunan stok yang diperkirakan mencapai 1,62 juta barel. Selisih yang cukup besar ini pada akhirnya turut menambah sentimen negatif terhadap harga minyak dunia.
Ketegangan Timur Tengah Masih Membayangi
Meski harga minyak melandai, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Pesawat tempur Arab Saudi dilaporkan menggempur wilayah Yaman, sementara kelompok Houthi yang didukung Iran meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah kota di Arab Saudi pada Rabu lalu.
Di sisi lain, gangguan pasokan global juga diperparah oleh penghentian operasional di dua ladang minyak utama Libya. Kondisi ini menambah kompleksitas tantangan pasokan minyak dunia yang tengah berlangsung.
Dengan demikian, meskipun langkah Arab Saudi lewat Oman berhasil meredakan kekhawatiran pasar untuk sementara waktu, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan konflik di kawasan tersebut dalam beberapa hari ke depan.