

Petta – Kabar baik datang dari sektor perkebunan nasional. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyiapkan benih unggul gratis untuk pengembangan 870 ribu hektare perkebunan secara nasional guna meningkatkan produktivitas petani sesuai program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Kepastian itu disampaikan Amran saat meninjau langsung lokasi pembibitan kelapa di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Menurutnya, kunjungan kerja tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan penyediaan benih unggul yang akan mendukung percepatan pengembangan enam komoditas perkebunan prioritas, yakni kelapa, tebu, kakao, kopi, jambu mete, pala, dan lada.
Selain itu, ia menegaskan bahwa program ini sejalan dengan target besar pemerintah. “Ini adalah program prioritas Bapak Presiden. Total target enam komoditas utama mencapai 870 ribu hektare. Hampir satu juta hektare di seluruh Indonesia dan bibitnya dibagikan gratis kepada masyarakat,” kata Amran, Kamis (30/7/2026).
Anggaran Capai Rp9,95 Triliun
Program penyediaan benih gratis ini bukan proyek dadakan. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp9,95 triliun untuk mendukung penyediaan bibit tersebut. Adapun realisasinya direncanakan berjalan bertahap selama tiga tahun, pada 2025-2027.
Dengan skema tersebut, petani di berbagai daerah tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk mendapatkan bibit unggul. Namun begitu, penyalurannya tetap mengikuti perhitungan wilayah dan tidak dibagikan secara merata tanpa dasar yang jelas.
Siapa yang Berhak Menerima?
Lantas, siapa saja yang berhak mendapatkan benih gratis ini? Amran menjelaskan bahwa program tersebut terbuka luas, asalkan calon penerima memenuhi kriteria yang ditetapkan. “Selama masyarakat masih membutuhkan, benih akan terus kita bagikan. Siapa saja masyarakat yang membutuhkan dan memenuhi kriteria akan kita dukung agar produktivitas perkebunan nasional semakin meningkat,” ujarnya.
Meski demikian, penyalurannya tetap mempertimbangkan kesesuaian wilayah. Amran menegaskan, “Daerah yang kita dahulukan adalah yang memang memiliki agroklimat yang sesuai dan masyarakatnya sudah memiliki budaya menanam komoditas tersebut. Kalau kelapa ya daerah yang memang masyarakatnya menanam kelapa, kalau tebu tentu daerah yang memiliki pabrik gula sehingga pengembangannya lebih optimal.”
Dengan begitu, pendekatan berbasis potensi lokal ini diharapkan membuat hasil panen lebih optimal, sekaligus mempercepat masa tanam karena masyarakat setempat sudah terbiasa membudidayakan komoditas tersebut.
Nursery Batang Jadi Percontohan
Sebagai gambaran kesiapan program, nursery kelapa di Batang yang ditinjau Amran memiliki luas total 15 hektare, terdiri atas area pembenihan seluas tiga hektare dan kebun induk seluas enam hektare yang menjadi sumber benih unggul.
Kebun induk itu sendiri ditanami Kelapa Genjah Entog Kebumen, Kelapa Genjah Pandan Wangi, dan Kelapa Dalam Bido, masing-masing seluas dua hektare. Saat ini, ribuan bibit kelapa juga tengah dipersiapkan dalam polibag untuk siap didistribusikan ke petani.
Selain untuk perkebunan komersial, program serupa juga menyasar kalangan pesantren. Amran menyiapkan bibit komoditas perkebunan secara gratis, pengolahan lahan tanpa biaya, hingga pendampingan budidaya bagi pesantren yang memiliki lahan produktif guna memperkuat ketahanan pangan. “Kalau ada pesantren yang membutuhkan, ada bibit tebu, kakao, kelapa, mente, kopi, semuanya gratis dari Bapak Presiden,” ujarnya menambahkan.
Melalui rangkaian program ini, pemerintah berharap produktivitas perkebunan nasional bisa terkerek naik secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen komoditas perkebunan utama dunia.