693 Siswa dan 14 Guru SMKN 6 Semarang Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan penyelidikan dan memeriksa sampel makanan yang diduga menyebabkan keracunan siswa dan guru di SMK 6 Semarang, Jumat (31/7/2026). (Dok. Dinkes Semarang)

Semarang, Petta – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi, Kota Semarang. Keputusan ini diambil menyusul dugaan keracunan massal yang dialami ratusan siswa dan guru SMK Negeri 6 Semarang, Jawa Tengah.

Insiden tersebut terjadi setelah para siswa dan guru menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Jumat (31/7/2026). Tak lama berselang, gejala gangguan pencernaan mulai bermunculan di lingkungan sekolah.

Ratusan Orang Alami Gejala Keracunan

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat lonjakan jumlah korban sejak laporan pertama masuk. Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, mengungkapkan data terbaru dari hasil pendataan sementara.

“Berdasarkan pendataan sementara, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru,” ujar Hakam, Sabtu (1/8/2026).

Para korban mengeluhkan gejala seperti pusing, mual, muntah, dan diare. Sebagian besar, yakni 698 orang, mendapat penanganan langsung di lingkungan sekolah oleh tim medis yang diterjunkan.

Namun demikian, sembilan orang lainnya harus dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk observasi lebih lanjut. Mereka dibawa ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu.

Dapur SPPG Karangturi Disetop Sementara

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Koordinator Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Hadi Riajaya, memastikan pihaknya langsung bergerak cepat. Investigasi lintas sektor pun digelar sehari setelah laporan diterima.

“Kemarin (Jumat-31/7) kami sudah melakukan investigasi lintas sektor yang melibatkan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, Koordinator Regional Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Kota Semarang, Koordinator Kecamatan Semarang, Babinsa, Kepolisian (Polrestabes), dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang,” kata Hadi, dikutip dari detikJateng, Minggu (2/8/2026).

Sebagai langkah kehati-hatian, operasional dapur pun langsung dibekukan sementara. Hadi menegaskan, keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas utama BGN dalam program ini.

Selanjutnya, tim juga menelusuri kronologi lengkap proses pengolahan makanan. Bahan baku menu MBG diketahui diterima secara bertahap pada Rabu (29/7/2026), mulai dari bumbu, buah, daging ayam, tahu, hingga sayuran.

Bahan-bahan tersebut kemudian disimpan di gudang basah dan lemari pembeku sebelum diolah. Proses persiapan makanan sendiri baru dimulai pada malam harinya.

BGN Ancam Sanksi Jika Terbukti Lalai

Sementara itu, Kepala BGN Sudaryono turut menjenguk para korban yang dirawat di sejumlah rumah sakit. Ia mendatangi RS Permata Medika, RS Bhakti Wira Tamtama, dan RS Pantiwilasa Citarum untuk memastikan kondisi mereka.

Meski begitu, Sudaryono enggan berspekulasi soal penyebab pasti insiden sebelum hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium rampung. Ia justru menegaskan komitmennya untuk menindak tegas pihak yang terbukti lalai.

“Kalau nanti terbukti ada kelalaian, kami akan melakukan suspend terhadap SPPG yang terkait,” ujarnya, dikutip Minggu (2/8/2026).

Adapun tim investigasi gabungan saat ini masih mendalami setiap tahapan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga proses distribusi ke sekolah. Sampel makanan dan spesimen dari para korban turut diambil untuk diperiksa di laboratorium.

Ke depan, hasil pemeriksaan itu akan menjadi dasar penentuan penyebab pasti kejadian. Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil investigasi resmi sebelum menarik kesimpulan.

Total
0
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts

Lebih Dekat ke Masyarakat

Jangkau audiens lebih luas dan tepat sasaran melalui iklan di website kami