

Petta – Keiko Fujimori resmi dilantik sebagai Presiden Peru pada Selasa (28/7/2026). Pelantikan ini mencatatkan sejarah baru bagi Peru, sebab Keiko menjadi perempuan pertama yang terpilih secara demokratis untuk memimpin negara tersebut.
Politikus berusia 51 tahun itu dilantik untuk masa jabatan 2026-2031. Ia pun menjadi presiden kesembilan Peru dalam satu dekade terakhir, mengingat hanya tiga presiden yang berhasil menyelesaikan masa jabatannya melalui jalur pemilu selama periode tersebut.
Kemenangan Keiko diraih lewat pemilihan putaran kedua pada Juni lalu. Ia unggul tipis dengan selisih kurang dari 50.000 suara atas lawannya, sekaligus menandai pergeseran arah politik Peru dan kawasan Amerika Latin secara lebih luas menuju haluan konservatif.
Langsung Umumkan Keadaan Darurat Keamanan
Tak lama setelah resmi menjabat, Keiko langsung mengambil langkah tegas di bidang keamanan. Ia memberi wewenang kepada angkatan bersenjata untuk menjaga ketertiban umum di wilayah-wilayah yang paling terdampak kejahatan terorganisasi.
Dalam pidato perdananya di Istana Parlemen, Lima, Keiko mendeklarasikan perang terhadap organisasi kriminal, pengedar narkoba, dan penambangan ilegal. Menurutnya, militer akan mengambil peran utama dalam operasi keamanan tersebut, namun tetap berkoordinasi erat dengan kepolisian.
Selain itu, Keiko turut mengambil inspirasi dari kebijakan keras Presiden El Salvador, Nayib Bukele. Ia berencana membangun penjara berkapasitas besar yang meniru Pusat Penahanan Teroris atau CECOT di negara tersebut.
Tak hanya soal keamanan, presiden baru Peru ini juga menyampaikan sejumlah agenda lain. Ia berjanji menaikkan upah minimum sebesar 15 persen, mereformasi jaminan sosial, sekaligus mempersempit kesenjangan pembangunan antarwilayah.
“Saya tidak hanya ingin memerintah negara, tetapi tujuan terbesar saya adalah menjembatani kesenjangan sosial,” ujar Keiko dalam pidatonya.
Diwarnai Aksi Protes dari Kubu Oposisi
Di sisi lain, pelantikan Keiko tidak berlangsung tanpa gejolak. Sesaat sebelum pidatonya dimulai, sejumlah legislator dari partai oposisi seperti Juntos por el Peru dan Ahora Nacion melakukan aksi walk out dari ruang sidang.
Mengenakan pakaian hitam dan pita duka cita, para legislator tersebut meneriakkan tuntutan keadilan bagi para korban. Mereka juga membawa foto-foto korban yang tewas sepanjang periode 1990-2000, masa pemerintahan Alberto Fujimori, ayah Keiko, yang kemudian dipenjara atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Meski demikian, ketegangan domestik itu tidak menyurutkan kehadiran para pemimpin negara sahabat. Sejumlah kepala negara turut hadir dalam upacara pelantikan, di antaranya Raja Felipe IV dari Spanyol, Presiden Ekuador Daniel Noboa, Presiden Chile Jose Antonio Kast, Presiden Bolivia Rodrigo Paz, dan Presiden Argentina Javier Milei.
Bahkan, Milei dan Keiko sempat menggelar pertemuan bilateral untuk membahas penguatan kerja sama di sektor ekonomi, keamanan, hingga inovasi. Adapun kunjungan tersebut menjadi lawatan internasional pertama Milei usai memicu ketegangan diplomatik dengan Brasil beberapa waktu sebelumnya.
Dengan dukungan mayoritas di parlemen, mengingat Partai Kekuatan Rakyat pimpinan Keiko bersama sekutunya menguasai separuh kursi Senat, langkah oposisi untuk menggoyang posisinya diperkirakan tidak akan mudah.